Nuansa Wisata Riau***
Tahu nggak Anda "Negeri Seribu Suluk". Bagi warga Provinsi Riau, mungkin sebagian sudah mengenalnya.
Negeri Seribu Suluk adalah sebuah daerah kabupaten hasil pemekaran kabupaten Kampar. kabupaten Rokan Hulu, itulah Negeri Seribu Suluk yang kita dimaksud.
Konon, julukan ini ditorehkan olah Thareqat Naqsabandi. Dasarnya menjuluki Kabupaten Rokan Hulu dengan sebutan itu karena dahulu di daerah ini sangat banyak surau suluk. SekarangSekarang ada dua hemah atau disebut dengan asal ajaran yang dibawa oleh mursyid dari dua orang Syekh.
Yakni dari Besilam Langkat Syekh Abdul Wahab Rokan. Beliau ini sangat besar pengaruh thareqatnya saat sekarang dan berpusat di Besilam Kabupaten Langkat Sumatera Utara.
Namun demikian Syekh Abdul Wahab Rokan adalah seorang putra Rokan yang lahir di Rantau Binuang Sakti Tahun 1811M dan wafat 1926M, setelah belajar Thareqat di Bukit Abi Qubis Mekah tahun 1286H ia menyebarkan ajaran tersebut di daerah Rokan dan sekitarnya.
Kemudian dari Kumpulan Sumatera Barat, yaitu Maulana Syekh Ibrahim Al Khalidi Kumpulan, lahir 1764 dan wafat 1914M, juga memberikan pengaruh thareqat di Rokan ini.
Ada 5 butir perkataan yang menjadi buah bibir ahli Sufi yaitu : Suluk, Tharekat, Saier, Their dan Rujuk.
Suluk adalah perjalanan yang ditentukan bagi orang yang berjalan (salik) kepada Allah, dengan melalui beberapa batas-batas dan tempat-tempat (maqam)
dan naik beberapa maqam/martabat yang tinggi
yaitu perjalanan rohani dan nafsani.
Adapun Suluk (berkhalwat) memberikan panduan pada kita dalam bentuk bingkisan sempurna dan praktis untuk pengembangan pribadi, suatu ilmu pengetahuan yang nyata
(keseimbangan dan keselarasan jasmani dan rohani), mengekang nafsu-nafsu rendah, pikiran yang kekal dalam bathin, pengendalian pikiran dan gerak-gerik,tata tertib pikiran, perasaan dan raga, perubahan perangai binatang kepada perangai mulia,
pengontrol tuntutan nafsu dan emosi,pikiran seimbang, ketenangan dan kesucian, kesabaran.
Penganut Tharekat melakukan khalwat atau suluk dengan mengasingkan diri kesebuah tempat, dibawah pimpinan seorang mursyid, ada yang 3 hari ada yang 7 hari dan yang paling banyak 40 hari.
Seorang guru (Syekh Mursyid) perlu sekali indispensable untuk memberikan bimbingan dalam perjalanan suluk,tiap murid suluk harus sederhana, hormat sopan santun, rendah hati,ramah toleransi dan banyak kecintaannya terhadap guru (Syekh), apabila murid mempunyai kerinduan akan kegaiban-kegaiban batin, murid itu gagal dalam suluk.
Saat sekarang masih banyak terdapat rumah suluk tersebut, lebih dari seratus rumah suluk, dua pertiga adalah pengaruh Kumpulan, sedangkan selebihnya adalah pengaruh Kumpulan.
Dengan demikian semangat pembangunan yang dibuat di Rokan Hulu memakai julukan NEGERI SERIBU SULUK tersebut, yang dituangkan dalam singkatan bermacam-macam, ini dicetuskan sejak Bupati Rokan Hulu H. Ramlan Zas, SH.
Sekarang ada beberapa tempat suluk yang masih aktif menurut catatan Kordinator Thareqat Naqsabandi Rokan Hulu. Yakni di Tambusai (4 Surau), Rambah (25 Surau), Rambah Samo (20 Surau), Rambah Hilir (24 Surau), Kepenuhan (15 Surau), Bangun Purba (3 Surau), Kuntodarussalam (13 Surau), Rokan IV Koto (5 Surau), Ujung Batu (4 Surau), Tandun (2 Surau), Kabun (4 Suaru).***NWR
Kamis, 24 Februari 2011
Sekilas Tentang Pulau “Penyu” Jemur
Nuansa Wisata Riau ***
Pulau Jemur adalah bagian dari sekian banyak wisata Rokan Hilir (Rohil). Kawasan Pulau Jemur merupakan gugusan pulau-pulau yang terdiri dari beberapa buah pulau, yakni Pulau Tekong Emas, Pulau Tekong Simbang, Pulau Labuhan Bilik serta pulau-pulau kecil lainnya.
Pulau-pulau yang terdapat di Pulau Jemur ini berbentuk lingkaran sehingga bagian tengahnya merupakan laut yang tenang. Pada musim angin barat laut tiba, gelombang di Selat Malaka sangat besar sehingga biasanya nelayan-nelayan yang sedang menangkap ikan disekitar perairan Pulau Jemur ini berlindung di bagian tengah Pulau Jemur yang terdapat air laut yang tenang.
Setelah gelombang laut mengecil atau badai berkurang barulah para nelayan keluar untuk memulai aktivitas menangkap ikan kembali. Pulau Jemur memiliki pemandangan dan panorama alam yang indah, selain itu Pulau Jemur ini amat kaya dengan hasil lautnya, disamping penyu-penyu tersebut naik ke pantai dan bertelur, penyu tersebut menyimpan telurnya di bawah lapisan pasir-pasir pantai, satwa langka ini dapat bertelur 100 sampai 150 butir setiap ekornya.
Untuk meningkatkan jumlah populasi Penyu Hijau, pemerintah Rokan Hilir melakukan kegiatan penagkaran penyu untuk mencegah terjadinya kepunbahan terhadap satwa langka ini.
Kawasan Pulau Jemur terletak lebih kurang 45 mil dari ibukota Kabupaten Rokan Hilir, Bagansiapiapi dan 45mil dari negara jiran yakni Malaysia, sedangkan Propinsi Sumatera Utara merupakan propinsi yang terdekat dari Pulau Jemur.
Selain itu Pulau Jemur juga terdapat beberapa potensi wisata lain diantaranya adalah Goa Jepang, Menara Suar, bekas tapak kaki manusia, perigi tulang, sisa-sisa pertahanan Jepang, batu Panglima Layar, Taman Laut dan pantai berpasir kuning emas.**NWR
Pulau Jemur adalah bagian dari sekian banyak wisata Rokan Hilir (Rohil). Kawasan Pulau Jemur merupakan gugusan pulau-pulau yang terdiri dari beberapa buah pulau, yakni Pulau Tekong Emas, Pulau Tekong Simbang, Pulau Labuhan Bilik serta pulau-pulau kecil lainnya.
Pulau-pulau yang terdapat di Pulau Jemur ini berbentuk lingkaran sehingga bagian tengahnya merupakan laut yang tenang. Pada musim angin barat laut tiba, gelombang di Selat Malaka sangat besar sehingga biasanya nelayan-nelayan yang sedang menangkap ikan disekitar perairan Pulau Jemur ini berlindung di bagian tengah Pulau Jemur yang terdapat air laut yang tenang.
Setelah gelombang laut mengecil atau badai berkurang barulah para nelayan keluar untuk memulai aktivitas menangkap ikan kembali. Pulau Jemur memiliki pemandangan dan panorama alam yang indah, selain itu Pulau Jemur ini amat kaya dengan hasil lautnya, disamping penyu-penyu tersebut naik ke pantai dan bertelur, penyu tersebut menyimpan telurnya di bawah lapisan pasir-pasir pantai, satwa langka ini dapat bertelur 100 sampai 150 butir setiap ekornya.
Untuk meningkatkan jumlah populasi Penyu Hijau, pemerintah Rokan Hilir melakukan kegiatan penagkaran penyu untuk mencegah terjadinya kepunbahan terhadap satwa langka ini.
Kawasan Pulau Jemur terletak lebih kurang 45 mil dari ibukota Kabupaten Rokan Hilir, Bagansiapiapi dan 45mil dari negara jiran yakni Malaysia, sedangkan Propinsi Sumatera Utara merupakan propinsi yang terdekat dari Pulau Jemur.
Selain itu Pulau Jemur juga terdapat beberapa potensi wisata lain diantaranya adalah Goa Jepang, Menara Suar, bekas tapak kaki manusia, perigi tulang, sisa-sisa pertahanan Jepang, batu Panglima Layar, Taman Laut dan pantai berpasir kuning emas.**NWR
Sekilas Info Wisata dari Kota Rengat
Nuansa Wisata Riau ***
Rengat adalah sebuah kota di Provinsi Riau, Indonesia dan ibu kota Kabupaten Indragiri Hulu. Kota ini dilalui Sungai Indragiri. Penduduk asli daerah ini adalah Suku Talang Mamak. beberapa suku lain sebagai suku pendatang di Rengat adalah suku Melayu, Minang, Batak, Tionghuoa, dan Sunda.
Di Rengat juga terdapat sebuah tugu dibangun mengenang kepahlawanan seorang bupati yang bernama Tulus (yang juga ayah kandung seorang sastrawan terkenal Chairil Anwar), pada masa Agresi Militer II Belanda ke Indonesia.
Buah khas Rengat adalah kedondong. Di pusat kota terdapat sebuah tugu jam dan pahatan buah kedondong di atasnya. Dodol buah kedondong adalah produk olahan yang juga disukai.
Salah satu tempat wisata di Rengat, adalah sebuah danau buatan yang dikenal penduduk setempat dengan nama Danau Raja. Konon dahulu kala di tengah danau buatan tersebut terdapat sebuah bangunan kerajaan.
Di era tahun 1980-an, pemerintah daerah Indragiri Hulu bermaksud menjadikan Danau Raja ini sebagai sebuah daerah wisata bagi penduduk sekitar dengan membangun taman bermain untuk anak-anak, dan beberapa fasilitas pendukung lainnya.
Sayang penggalakan pembangunan tersebut tidak berjalan lama, mengingat jumlah pengunjungnya tidak sesuai target yang diharapkan. Hal ini menyebabkan para pedagang setempat tidak bertahan lama.
Salah satu kendaraan khas Rengat yang masih beroperasi sampai sekarang adalah becak. Yang membuat Becak di Rengat berbeda dengan becak yang terdapat di beberapa daerah lain yaitu pada posisi pengayun becak berada di samping penumpang bukan di belakang.
Di Rengat juga terdapat dua buah jembatan melintasi Sungai Indragiri yang digunakan untuk penyeberangan ke daerah seberang sungai. Banyak penduduk yang memanfaatkan fasilitas ini untuk berolah raga seperti jogging ke daerah seberang yang dikenal bebas polusi.
Karena di daerah ini masih terdapat banyak pohon dan kebanyakan penduduknya bermata pencaharian berkebun. Sehingga jika pada musimnya, banyak buah-buahan membanjiri pasar seperti manggis, rambutan, durian, duku, dan lengkeng. **NWR
Rengat adalah sebuah kota di Provinsi Riau, Indonesia dan ibu kota Kabupaten Indragiri Hulu. Kota ini dilalui Sungai Indragiri. Penduduk asli daerah ini adalah Suku Talang Mamak. beberapa suku lain sebagai suku pendatang di Rengat adalah suku Melayu, Minang, Batak, Tionghuoa, dan Sunda.
Di Rengat juga terdapat sebuah tugu dibangun mengenang kepahlawanan seorang bupati yang bernama Tulus (yang juga ayah kandung seorang sastrawan terkenal Chairil Anwar), pada masa Agresi Militer II Belanda ke Indonesia.
Buah khas Rengat adalah kedondong. Di pusat kota terdapat sebuah tugu jam dan pahatan buah kedondong di atasnya. Dodol buah kedondong adalah produk olahan yang juga disukai.
Salah satu tempat wisata di Rengat, adalah sebuah danau buatan yang dikenal penduduk setempat dengan nama Danau Raja. Konon dahulu kala di tengah danau buatan tersebut terdapat sebuah bangunan kerajaan.
Di era tahun 1980-an, pemerintah daerah Indragiri Hulu bermaksud menjadikan Danau Raja ini sebagai sebuah daerah wisata bagi penduduk sekitar dengan membangun taman bermain untuk anak-anak, dan beberapa fasilitas pendukung lainnya.
Sayang penggalakan pembangunan tersebut tidak berjalan lama, mengingat jumlah pengunjungnya tidak sesuai target yang diharapkan. Hal ini menyebabkan para pedagang setempat tidak bertahan lama.
Salah satu kendaraan khas Rengat yang masih beroperasi sampai sekarang adalah becak. Yang membuat Becak di Rengat berbeda dengan becak yang terdapat di beberapa daerah lain yaitu pada posisi pengayun becak berada di samping penumpang bukan di belakang.
Di Rengat juga terdapat dua buah jembatan melintasi Sungai Indragiri yang digunakan untuk penyeberangan ke daerah seberang sungai. Banyak penduduk yang memanfaatkan fasilitas ini untuk berolah raga seperti jogging ke daerah seberang yang dikenal bebas polusi.
Karena di daerah ini masih terdapat banyak pohon dan kebanyakan penduduknya bermata pencaharian berkebun. Sehingga jika pada musimnya, banyak buah-buahan membanjiri pasar seperti manggis, rambutan, durian, duku, dan lengkeng. **NWR
Senin, 31 Januari 2011
“Soeman HS” Andalan Pariwisata Kota Bertuah
Nuansa Wisata Riau***
Kota Pekanbaru memiliki sejumlah sejumlah objek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya adalah gedung perpustakaan Soeman HS yang berdiri megah di samping gedung kantor perkantoran Gubernur Riau, Jalan Jenderal Sudirman pekanbaru.
Konon, gedung perpustakaan tersebut merupakan terbesar dan termegah di Nusantara. Bahkan, keunikan bentuk bangunannya pun mampu membuat setiap pendatang yang mengunjungi kota kota bertuah terkesima. Tak heran, gedung ini pun menjadi salah satu ikon pariwisata ibukota Provinsi Riau.
Setiap harinya, jumlah pengunjungnya gedung berlantai enam itu selalu ramai. Selain menyediakan beragam bacaan, di objek wisata pendidikan ini juga tersedia fasilitas lainnya. Seperti fasilitas hotspot. Bahkan, pengunjung juga bisa menikmati suguhan kuliner yang terdapat di lantai dasar dengan hawa sejuk yang keluar dari Air Conditioner.
Ketika sedang membaca buku, misalnya. Pengunjung bisa sambilan memandang suasa kota Pekanbaru dari lantai ketinggian. Sebab, dinding gedung setiap tingkatan lantainya terbuat dari kaca. Sehingga transparan.
Pengunjung yang datang ke objek wisata itu, selain dari kalangan pelajar dan mahasiswa, ternyata juga banyak dari kalangan umum. Apalagi pada Sabtu dan Minggu. Pengunjungnya meningkat tajam. Nah, bagi Anda yang belum menginjakkan kakinya di gedung tersebut,silahkan datang. Parkir tak bayar alias gratis. (NWR)
Kota Pekanbaru memiliki sejumlah sejumlah objek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya adalah gedung perpustakaan Soeman HS yang berdiri megah di samping gedung kantor perkantoran Gubernur Riau, Jalan Jenderal Sudirman pekanbaru.
Konon, gedung perpustakaan tersebut merupakan terbesar dan termegah di Nusantara. Bahkan, keunikan bentuk bangunannya pun mampu membuat setiap pendatang yang mengunjungi kota kota bertuah terkesima. Tak heran, gedung ini pun menjadi salah satu ikon pariwisata ibukota Provinsi Riau.
Setiap harinya, jumlah pengunjungnya gedung berlantai enam itu selalu ramai. Selain menyediakan beragam bacaan, di objek wisata pendidikan ini juga tersedia fasilitas lainnya. Seperti fasilitas hotspot. Bahkan, pengunjung juga bisa menikmati suguhan kuliner yang terdapat di lantai dasar dengan hawa sejuk yang keluar dari Air Conditioner.
Ketika sedang membaca buku, misalnya. Pengunjung bisa sambilan memandang suasa kota Pekanbaru dari lantai ketinggian. Sebab, dinding gedung setiap tingkatan lantainya terbuat dari kaca. Sehingga transparan.
Pengunjung yang datang ke objek wisata itu, selain dari kalangan pelajar dan mahasiswa, ternyata juga banyak dari kalangan umum. Apalagi pada Sabtu dan Minggu. Pengunjungnya meningkat tajam. Nah, bagi Anda yang belum menginjakkan kakinya di gedung tersebut,silahkan datang. Parkir tak bayar alias gratis. (NWR)
Kamis, 27 Januari 2011
Menengok Budaya Purba dari Candi Muara Takus
Nuansawisatariau***
Bingung mau liburan kemana? Tak ada salahnya Anda memilih Candi Muara Takus sebagai salah satu alternative tempat liburan. Selain berwisata juga menambah wawasan tentang candi tersebut.
Candi Muara Takus adalah sebuah candi Budha yang terletak di desa Muara Takus, Kecamatan XII Koto Kampar jaraknya kurang lebih 135 kilometer dari Kota Pekanbaru. Jarak antara kompleks candi ini dengan pusat desa Muara Takus sekitar 2,5 kilometer dan tak jauh dari pinggir sungai Kampar kanan.
Kompleks candi ini dikelilingi tembok berukuran 74 x 74 meter di luar arealnya terdapat pula tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer yang mengelilingi kompleks ini sampal ke pinggir sungai Kampar Kanan. Di dalam kompleks ini terdapat pula bangunan Candi Tua, Candi Bungsu dan Mahligai Stupa serta Palangka. Bahan bangunan candi terdiri dari batu pasir, batu sungai dan batu bata.
Menurut sumber tempatan, batu bata untuk bangunan ini dibuat di desa pongkai, sebuah desa yang terletak di sebelah hilir kompleks candi. Bekas galian tanah untuk batu bata itu sampai saat ini dianggap sebagai tempat yang sangat dihormati penduduk.
Untuk membawa batu bata ke tempat candi, dilakukan secara beranting dari tangan ke tangan. Cerita ini walaupun belum pasti kebenarannya memberikan gambaran bahwa pembangunan candi itu secara bergotong royong dan dilakukan oleh orang ramai.
Kompleks Candi Muara Takus, satu-satunya peninggalan sejarah yang berbentuk candi di Riau. Candi yang bersifat Buddhistis ini merupakan bukti pernahnya agama Buddha berkembang di kawasan ini.
Kendatipun demikian, para pakar purbakala belum dapat menentukan secara pasti kapan candi ini didirikan. Ada yang mengatakan abad kesebelas, ada yang mengatakan abad keempat, abad ketujuh, abad kesembilan dan sebagainya. Yang jelas kompleks candi ini merupakan peninggalan sejarah masa silam.
Bangunan utama di kompleks ini adalah sebuah stupa yang besar dengan sebuah bentukan menara yang sebagian besar terbuat dari batu bata dan sebagian kecil batu pasir kuning. Halaman candi ini berbentuk bujur sangkar (persegi) yang dikelilingi tembok berukuran 74 x 74 meter yang terbuat dari batu putih dengan tinggi tembok ± 80 cm.
Di luar arealnya terdapat pula tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer yang mengelilingi kompleks ini sampai ke pinggir sungai Kampar Kanan. Di dalam kompleks ini terdapat bangunan Candi Tua, Candi Bungsu, Mahligai Stupa serta Palangka. Di luar kompleks ini terdapat pula bangunan-bangunan (bekas) yang terbuat dari batu bata, yang belum dapat dipastikan jenis bangunannya.
Kompleks Candi Muara Takus, merupakan satu-satunya peninggalan sejarah yang berbentuk candi di Riau. Candi yang bersifat Buddhis ini merupakan bukti bahwa agama Buddha pernah berkembang di kawasan ini.
Candi Muara Takus merupakan salah satu bangunan suci agama Budha yang ada di Riau. Ciri yang menunjukkan bangunan suci tersebut merupakan bangunan agama Budha adalah stupa. Bentuk stupa sendiri berasal dari seni India awal, hampir merupakan anak bukit buatan yang berbentuk setengah lingkaran tertutup dengan bata atau timbunan dan diberi puncak meru.
Stupa adalah ciri khas bangunan suci agama Budha dan berubah-ubah bentuk dan fungsinya dalam sejarahnya di India dan di dunia Budhisme lainnya. Berdasarkan fungsinya stupa dapat dibedakan menjadi tiga. Yakni stupa yang merupakan bagian dari sesuatu bangunan, stupa yang berdiri sendiri atau berkelompok tapi masing-masing sebagai bangunan lengkap dan stupa yang menjadi pelengkap kelompok selaku candi perwara.
Berdasarkan fungsi di atas dapat disimpulkan bahwa bangunan di kompleks Candi Muara Takus menduduki fungsi yang kedua, yaitu stupa yang berdiri sendiri atau berkelompok tapi masing-masing sebagai bangunan lengkap. (NWR)
Bingung mau liburan kemana? Tak ada salahnya Anda memilih Candi Muara Takus sebagai salah satu alternative tempat liburan. Selain berwisata juga menambah wawasan tentang candi tersebut.
Candi Muara Takus adalah sebuah candi Budha yang terletak di desa Muara Takus, Kecamatan XII Koto Kampar jaraknya kurang lebih 135 kilometer dari Kota Pekanbaru. Jarak antara kompleks candi ini dengan pusat desa Muara Takus sekitar 2,5 kilometer dan tak jauh dari pinggir sungai Kampar kanan.
Kompleks candi ini dikelilingi tembok berukuran 74 x 74 meter di luar arealnya terdapat pula tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer yang mengelilingi kompleks ini sampal ke pinggir sungai Kampar Kanan. Di dalam kompleks ini terdapat pula bangunan Candi Tua, Candi Bungsu dan Mahligai Stupa serta Palangka. Bahan bangunan candi terdiri dari batu pasir, batu sungai dan batu bata.
Menurut sumber tempatan, batu bata untuk bangunan ini dibuat di desa pongkai, sebuah desa yang terletak di sebelah hilir kompleks candi. Bekas galian tanah untuk batu bata itu sampai saat ini dianggap sebagai tempat yang sangat dihormati penduduk.
Untuk membawa batu bata ke tempat candi, dilakukan secara beranting dari tangan ke tangan. Cerita ini walaupun belum pasti kebenarannya memberikan gambaran bahwa pembangunan candi itu secara bergotong royong dan dilakukan oleh orang ramai.
Kompleks Candi Muara Takus, satu-satunya peninggalan sejarah yang berbentuk candi di Riau. Candi yang bersifat Buddhistis ini merupakan bukti pernahnya agama Buddha berkembang di kawasan ini.
Kendatipun demikian, para pakar purbakala belum dapat menentukan secara pasti kapan candi ini didirikan. Ada yang mengatakan abad kesebelas, ada yang mengatakan abad keempat, abad ketujuh, abad kesembilan dan sebagainya. Yang jelas kompleks candi ini merupakan peninggalan sejarah masa silam.
Bangunan utama di kompleks ini adalah sebuah stupa yang besar dengan sebuah bentukan menara yang sebagian besar terbuat dari batu bata dan sebagian kecil batu pasir kuning. Halaman candi ini berbentuk bujur sangkar (persegi) yang dikelilingi tembok berukuran 74 x 74 meter yang terbuat dari batu putih dengan tinggi tembok ± 80 cm.
Di luar arealnya terdapat pula tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer yang mengelilingi kompleks ini sampai ke pinggir sungai Kampar Kanan. Di dalam kompleks ini terdapat bangunan Candi Tua, Candi Bungsu, Mahligai Stupa serta Palangka. Di luar kompleks ini terdapat pula bangunan-bangunan (bekas) yang terbuat dari batu bata, yang belum dapat dipastikan jenis bangunannya.
Kompleks Candi Muara Takus, merupakan satu-satunya peninggalan sejarah yang berbentuk candi di Riau. Candi yang bersifat Buddhis ini merupakan bukti bahwa agama Buddha pernah berkembang di kawasan ini.
Candi Muara Takus merupakan salah satu bangunan suci agama Budha yang ada di Riau. Ciri yang menunjukkan bangunan suci tersebut merupakan bangunan agama Budha adalah stupa. Bentuk stupa sendiri berasal dari seni India awal, hampir merupakan anak bukit buatan yang berbentuk setengah lingkaran tertutup dengan bata atau timbunan dan diberi puncak meru.
Stupa adalah ciri khas bangunan suci agama Budha dan berubah-ubah bentuk dan fungsinya dalam sejarahnya di India dan di dunia Budhisme lainnya. Berdasarkan fungsinya stupa dapat dibedakan menjadi tiga. Yakni stupa yang merupakan bagian dari sesuatu bangunan, stupa yang berdiri sendiri atau berkelompok tapi masing-masing sebagai bangunan lengkap dan stupa yang menjadi pelengkap kelompok selaku candi perwara.
Berdasarkan fungsi di atas dapat disimpulkan bahwa bangunan di kompleks Candi Muara Takus menduduki fungsi yang kedua, yaitu stupa yang berdiri sendiri atau berkelompok tapi masing-masing sebagai bangunan lengkap. (NWR)
Bentangan Pesona Alam di Negeri Seribu Parit
Nuansawisatariau***
Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) disebut juga negeri “Seribu Parit”. Julukan ini tepat untuk menggambarkan keadaan alamnya yang didominasi kawasan rawa bertanah gambut serta parit-parit kecil, memetak lahan perkebunan kelapa yang merupakan tanaman rakyat setempat.
Masyarakat umumnya dari suku Melayu namun di daerah ini juga terdapat pendatang dan etnis Banjar dan Bugis yang kemudian bermukim dan secara turun temurun melahirkan bentuk budaya campuran Meiayu Riau, Banjar dan Bugis.
Daerah Inhil yang berbatasan langsung dengan Batam, Kepulauan Riau ini memiliki porensi wisata. Di antaranya Bukit Berbunga di sebelah Selatan Desa Batu Ampar, Kecamatan Keritang, yang dapat ditempuh dengan jalan setapak, melintasi dua buah sungai kecil.
Bukit dengan ketinggian sekitar 150 meter ini di puncaknya terdapat dua hamparan pasir yang disebut Gelanggang Muda dan Gelanggang Tua yang sering digunakan untuk tempat sabung ayam. Di sekitar bukit pada musim tertentu dihiasi dengan bunga Menik berwarna putih yang hanya terdapat di sekiiar bukit berbunga.
Obyek wisata alamnya adalah Air Terjun Tembulun Rusa di sebelah Utara Desa Batu Ampar, Aliran dari air terjun ini sejauh 2,5 km. Selain itu agrowisata juga dikembangkan dengan adanya perkebunan kelapa hybrida. perkebunan nenas di Pulau Burung, Kecamatan Kareman dimana hasil perkebunan ini telah diolah menjadi produk makanan seperti santan kelapa, tepung kelapa, air kelapa, nenas kaleng dan sebagainya.
Wisata ziarah terletak di Parit Hidayat Kecamatan Kuala Indragiri yaitu makam Syech Abdurrahman Sidik yang meninggal pada 10 Maret 1939. Makam ini setiap hari banyak dikunjungi orang yang berziarah baik dari dalam maupun luar negeri. Di samping makarn juga berdiri masjid Al Hidayah yang didirikan pada abad ke-19.
Atraksi wisata yang unik di daerah ini adalah lomba sampan leper dan manongkah. Kegiatan ini bermula karena mendangkalnya sungai Batang Tuaka yang semula bisa dilayari kapal-kapal. Manongkah atau kegiatan ski di atas lumpur adalah suatu kegiatan suku Duanu dengan menggunakan papan untuk mencari kerang di atas pantai lumpur yang akhirnya tiap tahun diperlombakan.
Kegiatan lainnya yang menarik di Pekan Arba, Kecamatan Tembilahan ini adalah pacu jalur mini, lomba menangkap itik di atas lumpur, meniti batang pinang, lomba layang-layang, gasing dan kesenian tradisional lainnya. (NWR)
Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) disebut juga negeri “Seribu Parit”. Julukan ini tepat untuk menggambarkan keadaan alamnya yang didominasi kawasan rawa bertanah gambut serta parit-parit kecil, memetak lahan perkebunan kelapa yang merupakan tanaman rakyat setempat.
Masyarakat umumnya dari suku Melayu namun di daerah ini juga terdapat pendatang dan etnis Banjar dan Bugis yang kemudian bermukim dan secara turun temurun melahirkan bentuk budaya campuran Meiayu Riau, Banjar dan Bugis.
Daerah Inhil yang berbatasan langsung dengan Batam, Kepulauan Riau ini memiliki porensi wisata. Di antaranya Bukit Berbunga di sebelah Selatan Desa Batu Ampar, Kecamatan Keritang, yang dapat ditempuh dengan jalan setapak, melintasi dua buah sungai kecil.
Bukit dengan ketinggian sekitar 150 meter ini di puncaknya terdapat dua hamparan pasir yang disebut Gelanggang Muda dan Gelanggang Tua yang sering digunakan untuk tempat sabung ayam. Di sekitar bukit pada musim tertentu dihiasi dengan bunga Menik berwarna putih yang hanya terdapat di sekiiar bukit berbunga.
Obyek wisata alamnya adalah Air Terjun Tembulun Rusa di sebelah Utara Desa Batu Ampar, Aliran dari air terjun ini sejauh 2,5 km. Selain itu agrowisata juga dikembangkan dengan adanya perkebunan kelapa hybrida. perkebunan nenas di Pulau Burung, Kecamatan Kareman dimana hasil perkebunan ini telah diolah menjadi produk makanan seperti santan kelapa, tepung kelapa, air kelapa, nenas kaleng dan sebagainya.
Wisata ziarah terletak di Parit Hidayat Kecamatan Kuala Indragiri yaitu makam Syech Abdurrahman Sidik yang meninggal pada 10 Maret 1939. Makam ini setiap hari banyak dikunjungi orang yang berziarah baik dari dalam maupun luar negeri. Di samping makarn juga berdiri masjid Al Hidayah yang didirikan pada abad ke-19.
Atraksi wisata yang unik di daerah ini adalah lomba sampan leper dan manongkah. Kegiatan ini bermula karena mendangkalnya sungai Batang Tuaka yang semula bisa dilayari kapal-kapal. Manongkah atau kegiatan ski di atas lumpur adalah suatu kegiatan suku Duanu dengan menggunakan papan untuk mencari kerang di atas pantai lumpur yang akhirnya tiap tahun diperlombakan.
Kegiatan lainnya yang menarik di Pekan Arba, Kecamatan Tembilahan ini adalah pacu jalur mini, lomba menangkap itik di atas lumpur, meniti batang pinang, lomba layang-layang, gasing dan kesenian tradisional lainnya. (NWR)
Alam Natuna dan "The Lost World"
Nuansawisatariau**
Apakah Anda masih ingat dengan film The Lost World yang sempat populer beberapa waktu yang lalu? Film yang dibintangi aktor Sean Connery ini bercerita tentang sisi dunia yang hilang dan tidak terjamah dengan sejumlah potensi alamnya yang indah.
Pulau Natuna mengingatkan kita akan film tersebut. Bila Anda memiliki jiwa petualang, pasti akan tertantang dan terpuaskan untuk menjelajahi pulau ini.
Kepulauan Natuna merupakan bagian paling ujung utara Indonesia. Pulau Bunguran, Jemaja, dan Serasan merupakan tiga pulau terbesar di gugusan kepulauan ini. Kepulauan Natuna merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Kepulauan Riau, dengan ibu kota Ranai di Pulau Bunguran, sebagai ibu kota kabupaten.
Natuna dikelilingi laut dalam. Di ujung utara berbatasan langsung dengan perairan Vietnam, Kamboja, Malaysia, dan Singapura. Di perairan sekitar Natuna terdapat karang tak terduga yang tersebar di laut lepas. Tidak heran bila dulu banyak warga Vietnam dan Singapura yang terdampar di pulau Natuna ini.
Dengan posisi dikelilingi laut luas, Natuna menjadi terpencil, serta minim fasilitas sosial dan fasilitas umum. Lautan luas seharusnya membuat Natuna menjadi penghasil laut utama. Namun, letak Natuna terlalu jauh sehingga membuat nelayan tidak mampu memasarkan ikan tangkapannya. Sementara itu, fasilitas ruang pendingin untuk mengawetkan ikan juga minim. Kekayaan laut Natuna diperkirakan dapat menghasilkan lebih dari satu juta ton ikan per tahun. Namun, saat ini baru tiga puluh enam persen saja yang termanfaatkan.
Minimnya pemanfaatan potensi laut juga karena pengaruh musim yang hanya ramah selama enam bulan saja. Selebihnya, saat angin utara datang, laut di sekitar Natuna menjadi ganas dan para nelayan memilih berkebun sebagai lahan menyambung hidup.
Gugusan Kepulauan Natuna juga memiliki pemandangan yang indah, dengan panorama pantai yang masih terjaga keasriannya. Natuna demikian elok dan memiliki banyak potensi.
Pengunjung dapat menemukan wisata pantai, seperti Pantai Tanjung, Pantai Sebagul, Pantai Teluk Selahang, Pantai Setengar, dan sebagainya. Sejumlah lokasi bahkan menjadi tempat favorit bagi penggemar snorkling, pengamat habitat penyu, dan pecinta wisata bawah air.
Pengunjung juga dapat mengunjungi Pulau Senoa dengan menggunakan pompong dan perjalanan ditempuh sekitar 30 menit. Bila dilihat dari fisiknya, bentuk Pulau Senoa menyerupai ibu hamil yang sedang berbaring di atas laut. Karena itu, Pulau ini kerap disebut dengan Pulau Ibu Hamil oleh penduduk setempat. Di Pulau Senoa, pengunjung akan menemukan penyu yang berkeliaran dengan bebas di pinggir pantai. Di Pulau ini juga terdapat sarang burung walet di sejumlah gua.
Selain itu, di Natuna juga ada obyek wisata gua dan batu-batuan seperti gua Batu Sindu, Batu Kapal, Alive Stone Park, dan sebagainya. Natuna memiliki sejumlah batu-batu berukuran besar yang tersebar di seluruh pulau. Kini, oleh pemerintah setempat, batu-batu tersebut dilindungi dan dijadikan obyek wisata.
Bentuk batu-batuan ini juga unik, seperti Batu Kapal berupa dua batu besar yang berjajar. Bentuknya menyerupai kapal besar yang terdampat di tepi pantai. Adapun Alive Stone Park berupa batu yang berdiri di atas serakan batu lainnya. Bentuknya menyerupai elips, dan mirip dengan batu yang ditemukan di Afrika.
Di Natuna, pengunjung juga dapat menemui salah satu spesies kera langka yang biasa disebut dengan nama `kekah`. Kekah hanya hidup dan berkembang di Bunguran seperti di kawasan Gunung Sintu (Pian Tengah, Sepang, Seberang), gunung Ranai, dan Gunung Ceruk.
Bentuk kekah sangat unik, tubuhnya diselimuti oleh bulu-bulu hitam tebal yang diselingi dengan warna putih pada bagian dada hingga kelihatan seperti mengenakan rompi putih dan pada bagian wajah. Mata kekah dikelilingi kulit berwarna putih dan abu-abu. Mereka terlihat seperti mengenakan kacamata.
Seperti jenis-jenis kera lainnya, Kekah yang pemakan buah-buahan, dedaunan, dan umbi-umbian ini juga hidup berkelompok dan agak sulit didekati karena sifatnya yang sedikit pemalu dan takut. Namun, bila beruntung, Anda dapat menemukannya di jalan raya dalam perjalanan menuju pelabuhan Selat Lampa, Kecamatan Pulau Tiga, Natuna.
Meski terpencil dan minim fasilitas, Natuna sebenarnya bukanlah kabupaten yang miskin. Di sekitar bagian utara Natuna, terpendam ladang gas d-alpha, dengan total cadangan 222 triliun cubic feet, dan gas hidrokarbon sebesar 46 triliun cubic feet. Hal ini menjadikan Natuna sebagai salah satu sumber cadangan gas terbesar di Asia.
Untuk mencapai Natuna dapat menggunakan pesawat kecil dengan kapasitas sekitar 45 orang dari Bandara Hang Nadim, Batu Besar, Batam, Kepulauan Riau; atau dari Bandara Kijang, Tanjung Pinang. Perjalanan dengan pesawat memakan waktu selama kurang lebih 1 jam 30 menit.
Atau dapat juga menggunakan jalur pelayaran dengan kapal Pelni dari Pelabuhan Kijang, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Kapal ini akan kembali lagi ke Natuna satu minggu kemudian. Perjalanan dengan kapal memakan waktu sekitar 12 jam.
Untuk penggemar wisata kuliner, di Natuna bisa dicicipi makanan seafood, seperti sup kepala ikan yang bisa diperoleh di rumah makan di jalan H R Subrantas Ranai Darat, Natuna. Pengunjung juga bisa mendapatkan madu asli Natuna yang dijual di toko dan warung-warung di Ranai Natuna.
Menjelajahi Natuna cukup menantang dan perjalanan panjang berganti transportasi menuju Natuna akhirnya akan terbayar dengan keindahan alamnya. (NWR)
Apakah Anda masih ingat dengan film The Lost World yang sempat populer beberapa waktu yang lalu? Film yang dibintangi aktor Sean Connery ini bercerita tentang sisi dunia yang hilang dan tidak terjamah dengan sejumlah potensi alamnya yang indah.
Pulau Natuna mengingatkan kita akan film tersebut. Bila Anda memiliki jiwa petualang, pasti akan tertantang dan terpuaskan untuk menjelajahi pulau ini.
Kepulauan Natuna merupakan bagian paling ujung utara Indonesia. Pulau Bunguran, Jemaja, dan Serasan merupakan tiga pulau terbesar di gugusan kepulauan ini. Kepulauan Natuna merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Kepulauan Riau, dengan ibu kota Ranai di Pulau Bunguran, sebagai ibu kota kabupaten.
Natuna dikelilingi laut dalam. Di ujung utara berbatasan langsung dengan perairan Vietnam, Kamboja, Malaysia, dan Singapura. Di perairan sekitar Natuna terdapat karang tak terduga yang tersebar di laut lepas. Tidak heran bila dulu banyak warga Vietnam dan Singapura yang terdampar di pulau Natuna ini.
Dengan posisi dikelilingi laut luas, Natuna menjadi terpencil, serta minim fasilitas sosial dan fasilitas umum. Lautan luas seharusnya membuat Natuna menjadi penghasil laut utama. Namun, letak Natuna terlalu jauh sehingga membuat nelayan tidak mampu memasarkan ikan tangkapannya. Sementara itu, fasilitas ruang pendingin untuk mengawetkan ikan juga minim. Kekayaan laut Natuna diperkirakan dapat menghasilkan lebih dari satu juta ton ikan per tahun. Namun, saat ini baru tiga puluh enam persen saja yang termanfaatkan.
Minimnya pemanfaatan potensi laut juga karena pengaruh musim yang hanya ramah selama enam bulan saja. Selebihnya, saat angin utara datang, laut di sekitar Natuna menjadi ganas dan para nelayan memilih berkebun sebagai lahan menyambung hidup.
Gugusan Kepulauan Natuna juga memiliki pemandangan yang indah, dengan panorama pantai yang masih terjaga keasriannya. Natuna demikian elok dan memiliki banyak potensi.
Pengunjung dapat menemukan wisata pantai, seperti Pantai Tanjung, Pantai Sebagul, Pantai Teluk Selahang, Pantai Setengar, dan sebagainya. Sejumlah lokasi bahkan menjadi tempat favorit bagi penggemar snorkling, pengamat habitat penyu, dan pecinta wisata bawah air.
Pengunjung juga dapat mengunjungi Pulau Senoa dengan menggunakan pompong dan perjalanan ditempuh sekitar 30 menit. Bila dilihat dari fisiknya, bentuk Pulau Senoa menyerupai ibu hamil yang sedang berbaring di atas laut. Karena itu, Pulau ini kerap disebut dengan Pulau Ibu Hamil oleh penduduk setempat. Di Pulau Senoa, pengunjung akan menemukan penyu yang berkeliaran dengan bebas di pinggir pantai. Di Pulau ini juga terdapat sarang burung walet di sejumlah gua.
Selain itu, di Natuna juga ada obyek wisata gua dan batu-batuan seperti gua Batu Sindu, Batu Kapal, Alive Stone Park, dan sebagainya. Natuna memiliki sejumlah batu-batu berukuran besar yang tersebar di seluruh pulau. Kini, oleh pemerintah setempat, batu-batu tersebut dilindungi dan dijadikan obyek wisata.
Bentuk batu-batuan ini juga unik, seperti Batu Kapal berupa dua batu besar yang berjajar. Bentuknya menyerupai kapal besar yang terdampat di tepi pantai. Adapun Alive Stone Park berupa batu yang berdiri di atas serakan batu lainnya. Bentuknya menyerupai elips, dan mirip dengan batu yang ditemukan di Afrika.
Di Natuna, pengunjung juga dapat menemui salah satu spesies kera langka yang biasa disebut dengan nama `kekah`. Kekah hanya hidup dan berkembang di Bunguran seperti di kawasan Gunung Sintu (Pian Tengah, Sepang, Seberang), gunung Ranai, dan Gunung Ceruk.
Bentuk kekah sangat unik, tubuhnya diselimuti oleh bulu-bulu hitam tebal yang diselingi dengan warna putih pada bagian dada hingga kelihatan seperti mengenakan rompi putih dan pada bagian wajah. Mata kekah dikelilingi kulit berwarna putih dan abu-abu. Mereka terlihat seperti mengenakan kacamata.
Seperti jenis-jenis kera lainnya, Kekah yang pemakan buah-buahan, dedaunan, dan umbi-umbian ini juga hidup berkelompok dan agak sulit didekati karena sifatnya yang sedikit pemalu dan takut. Namun, bila beruntung, Anda dapat menemukannya di jalan raya dalam perjalanan menuju pelabuhan Selat Lampa, Kecamatan Pulau Tiga, Natuna.
Meski terpencil dan minim fasilitas, Natuna sebenarnya bukanlah kabupaten yang miskin. Di sekitar bagian utara Natuna, terpendam ladang gas d-alpha, dengan total cadangan 222 triliun cubic feet, dan gas hidrokarbon sebesar 46 triliun cubic feet. Hal ini menjadikan Natuna sebagai salah satu sumber cadangan gas terbesar di Asia.
Untuk mencapai Natuna dapat menggunakan pesawat kecil dengan kapasitas sekitar 45 orang dari Bandara Hang Nadim, Batu Besar, Batam, Kepulauan Riau; atau dari Bandara Kijang, Tanjung Pinang. Perjalanan dengan pesawat memakan waktu selama kurang lebih 1 jam 30 menit.
Atau dapat juga menggunakan jalur pelayaran dengan kapal Pelni dari Pelabuhan Kijang, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Kapal ini akan kembali lagi ke Natuna satu minggu kemudian. Perjalanan dengan kapal memakan waktu sekitar 12 jam.
Untuk penggemar wisata kuliner, di Natuna bisa dicicipi makanan seafood, seperti sup kepala ikan yang bisa diperoleh di rumah makan di jalan H R Subrantas Ranai Darat, Natuna. Pengunjung juga bisa mendapatkan madu asli Natuna yang dijual di toko dan warung-warung di Ranai Natuna.
Menjelajahi Natuna cukup menantang dan perjalanan panjang berganti transportasi menuju Natuna akhirnya akan terbayar dengan keindahan alamnya. (NWR)
Langganan:
Postingan (Atom)