Kabupaten Kampar merupakan salah satu daerah di Provinsi Riau yang memiliki banyak objek wisata. Mulai dari wisata alam, budaya hingga religi atau rohani. Nah, jika Anda berwisata ke bumi “Serambi Mekkah”-nya Riau itu, jangan lupa bertandang ke Masjid Jami di jalan Pasar Usang desa Tanjung Barulak, kecamatan Kampar.
Cerita tentang Islam pun akan “mengalir” dari bangunan yang dibangun pada masa penjajahan Belanda, tepatnya tahun 1901 Masehi. Rumah ibadah ini memiliki banyak keunikan. Semua bahan bangunannya berasal dari kayu. Dalam pembangunannya, sama sekali tidak menggunakan paku, melainkan hanya pasak kayu.
Muhammad Ali selaku salah seorang pengurus Masjid Jami' Air Tiris pun mulai membuka pembicaraan dengan Nuansa Wisata Riau. Menurutnya, di balik keunikan arsitek bangunannya, masjid tersebut ternyata memiliki banyak kisah menarik. Termasuk kisah mengandung unsur “mistik”.
Dan sampai era kemerdekaan sekarang ini, keberadaan masjid tersebut masih menjadi sebuah misteri yang tak terpecahkan. Anehnya, meskipun telah beberapa kali dilakukan penelitian, namun misteri itu belum terpecahkan juga.
Alkisah, dia pun menuturkan sekilas tentang sejarah masjid yang kini jadi salah satu objek wisata unggulan Kabupaten Kampar. Disebutkan, pada zaman penjajahan tempo doeloe, Belanda sempat beberapa kali berusaha membakar masjid tersebut. Namun upaya jahat itu tak pernah berhasil.
Rasanya tak mungkin Belanda tidak bisa membumihanguskan masjid bersejarah itu. Apalagi mengingat kekuatan dan armada mereka (Belanda) yang kala itu sangat mumpuni. Artinya dengan kekuatan yang dimiliki Belanda saat itu, sebenarnya mereka sangta gampang untuk menmbakar masjid itu. Tapi itu tak bisa dilakukan. Inilah yang hingga kini masih misteri.
Selain keunikan masjid, tetunya ada lagi yang cukup mendapat perhatian bagi setiap saja yang berkunjung ke masjid tersebut. Di sana akan ditemui sebuah bak air tempat tempat wudhu. Di dalam bak ini terdapat batu berbentuk kepala kerbau.
Konon, batu besar berbentuk kepala kerbau itu selalu berpindah-pindah posisi. Kadang posisinya berada di sudut tertentu, kemudian sudah berganti posisi ke sudut lain tanpa ada yang memindahkannya. Ya, sepertinya agak mengandung mistik.
Muhammad Ali juga mengakui hal itu. Bahkan dia mengaku pernah suatu ketika mendapati batu berbentuk kepala kerbau itu sudah berad di dalam sumur masjid berkedalaman delapan meter. Setelah itu, beberapa hari kemudian, batu ini sudah kembali ke atas.
Dia sendiri tak yakin ada orang yang sengaja memindahkannya dari dalam sumur ke atas. Soalnya batu itu lumayan berat mencapai puluhan kilogram. Jadi, rasanya tak mungkin orang segampang itu memindah-midahkannya. Apalagi, peristiwa seperti itu berulang kali terjadi sejak dulu. Ringkasnya, batu berbentuk kepala kerbau itu selalu berpindah-pindah.
Selain itu, air bening yang ada di bak yang di dalamnya terdapat batu berbentuk kepala kerbau itu juga memiliki cerita mitos. Percaya atau tidak, konon siapa saja yang meminum atau mengusap air itu untuk maksud tertentu, akan terkabul. Jadi, tak salah Anda untuk mencobanya. Tapi jangan syirik loh.
Kemudian ada juga tentang sejarah nyaris tengelamnya masjid itu pada zaman dahulu. Meskipun semua tempat dan rumah penduduk yang ada di sekitarnya hampir semuanya terendam banjir, tapi masjid itu terhindar dari bencana.
Menariknya, tempo itu ketinggian air sempat merendam rumah yang umumnya berpanggung. Tapi ketika air banjir mendekati masjid, air itu selalu membelok ke arah bawah. Air tak pernah masuk ke dalam masjid. Hal itu disaksikan sendiri oleh Muhammad Ali.
Sekedar tambahan saja, bentuk arsitektur bangunan masjid Jami’ Air Tiris, Kampar akan terus dipertahankan terus bentuk keaslianny. Jika Anda sampai di sana, dinding masjid terbuat dari papan berukir akan Anda temui. Bahkan tiang empatnya masih ada bekas tarahan seperti awal pembangunannya.
Oleh masyarakat tempatan, masjid ini dianggap keramat. Tak heran, hingga kini banyak wisatawan baik lokal, Nusantara atau mancanegara yang berkunjung ke sana. Dari lua negeri, umunya wisatawan tersebut berasal dari Singapura dan Malaysia.
Para wisatawan ini sengaja datang ke Masjid Jami tersebut untuk membayar nazar dan sekalian mandi di sumur yang konon mengandung mistik. Umumnya wisatawan banyak mengunjungi asjid ini pada saat Ramadhan dan pada hari raya Puasa Enam.
Di masjid yang didirikan masyarakat Air Tiris yang waktu itu dipimpin Engku Mudo Sangkal (seorang yang sangat dihormati dan panutan kampung), para wisatawan, khususnya yang Islam selalu menyempatkan diri untuk shalat. Dan tak heran, pada waktu tertentu tersebut, suasana di dalam masjid dan sekitar masjid selalu ramai sebagaimana arti Jami’ sendiri adalah ramai atau selalu ramai atau selalu dikunjungi.
Begitulah sekilas tentang sejarah dan misteri Masjid Jami’ Air Tiris. Jadi, jika Anda berkunjung ke Kabupaten Kampar, jangan lupa singgah ke Masjid Jami”. Rasanya tak lengkap jika tak mengunjunginya meskipun hanya sejenak. Amien-NWR (lihat fotonya di bawah)
Kamis, 04 Agustus 2011
Senin, 01 Agustus 2011
Masjid Raya Pekanbaru Ala Arsitek Timur Tengah
Bila Anda berkunjung ke Pekanbaru, belum pas rasanya bila tidak singgah ke Masjid Raya. Masjid ini penuh dengan sejarah kejayaan Islam masa lampau dan dibangun masyarakat Pekanbaru dengan cara swadaya. Namun menilik ke belakang, kehadiran masjid ini tidak terlepas dari turut andilnya Kesultanan Siak Sri Indrapura.
Masjid Raya Pekanbaru ini, tempatnya berada di Kecamatan Senapelan, salah satu sudut kota tertua di Ibukota Provinsi Riau itu. Letaknya bangunan masjid ini, di atas perbukitan kecil yang sayap sebelah kanannya terdapat makam Sultan Siak yakni Sultan Abdul Jalil pemimpin kerajaan IV dan Sultan Mahmud Ali anaknya sebagai pemangku kerajaan ke V. Antara anak dan ayahnya ini memiliki kekuasaan sekitar tahun 1778 hingga 1782.
Letak makam kerajaan ini hanya sekitar 10 meter dari bangunan masjid tersebut. Di depan makam ini, ada seonggok batu, sebagai pertanda bukti sejarah bahwa dulunya disitulah bangunan masjid pertama yang didirikan kesultanan Siak. Lokasi masjid ini hanya sekitar 100 meter dari bibir sungai Siak yang tercatat sebagai sungai terdalam di Indonesia.
Setelah runtuhnya masjid milik Kesultanan Siak, sekitar 40 depa atau langkah dari lokasi masjid yang dibangun sultan, didirikan Masjid Raya. Masjid Raya ini dibangun pertama kalinya dengan dana swadaya masyarakat Pekanbaru pada tahun 1928 silam. Jadi sebenarnya Masjid Raya itu bukan dibangun semasa Kesultanan Siak.
Selama ini banyak masyarakat termasuk media massa terjebak dalam sejarah yang salah. Masjid Raya Pekanbaru selalu disebut-sebut dibangun semasa Kesultanan Siak atau di era abad ke 17. Padahal asumsi semua itu sebenarnya salah. Dulu memang di sekitar Masjid Raya yang sekarang ini berdiri megah itu, ada bangunan masjid milik Kesultanan Siak. Namun jauh sebelum kemerdekaan, masjid bangunan itu telah termakan usia.
Saat Masjid Raya dibangun, kerajaan Siak kala itu telah perpusat dibagian hilir sungai Siak, yang sekarang menjadi Kabupaten Siak, di Riau. Namun sebelum sultan ke V wafat, dia sempat berwasiat pada masyarakat sekitarnya, bahwa masjid yang dia bangun, sebaiknya diperbesar lagi agar dapat menampung jamaah yang lebih banyak.
Pesan terakhir sultan inilah yang menjadi panutan masyarakat, yang akhirnya dibangun masjid yang jaraknya hanya 13 meter dari Masjid Sultan itu. Kala itu masjid ini berdiri dengan luas bangunan hanya sekitar 8x8 meter.
Tahun demi tahun, masjid ini terus direnovasi untuk diperluas. Hingga pada tahun 2008, masjid ini mendapat bantuan dana dari Pemerintah Provinsi Riau lebih dari Rp 100 miliar untuk melakukan perbaikan di sana sini. Dana sebanyak itu tidak hanya untuk bangunan masjid saja, namun untuk mengganti rugi tanah milik masyarakat sekitarnya.
Kini bangunan masjid yang kondisinya masih dalam renovasi yang diperkirakan baru akan selesai pada tahun 2012 mendatang itu, memiliki luas bangunan 36 m x 40 m dengan dua lantai. Bangunan masjid itu kini berdiri di atas tanah seluas 3 hektar. Bangunan ini akan memiliki halaman parkir di sebelah selatan dan akan memiliki taman sebelah utara sampai menuju ke Sungai Siak.
"Ke depan, masjid ini akan memimiliki halaman yang cukup luas. Selama ini halaman masjid sangat terbatas sekali. Dengan bantuan Pemprov Riau, masjid ini akan menjadi salah satu andalan mayarakat Riau sebagai masjid yang penuh dengan sejarah," kata pengurus Masjid Raya, Sofyan Hamid (61) dalam perbincangan dengan detikramadan.
Masjid ini memiliki arsitektur bergaya Timur Tengah. Bila dilihat dari konsep halaman yang luas, masjid ini menyerupai Masjidil Haram. Bila dilihat dari hiasan yang melekat pada sisi banguan luarnya, arsitekturnya bergaya Timur Tengah.
Kondisi masjid saat ini, memang belum tampak sempurna. Lapisan dindingnya masih terlihat sejumlah ukiran kaligrafi yang belum usai. Sedangkan di dalam bangunan masjid, terdapat sekitar 40 pilar yang sebagai penyangga untuk lantai dua.
Ada enam piliar di dalam bangunan masjid yang terlihat tidak menyangga ke lantai dua. Pilar ini sengaja dipertahankan sebagai bukti sejarah bahwa pilar tersebut merupakan tiang awal dibangunnya masjid ini tanpa ada besinya.
"Dulu saat masjid ini dibangun, tidak menggunakan tulang besi sebagai pertahanannya. Itu sebabnya, masjid ini terpaksa direnovasi untuk memperindahnya kembali. Namun pilar ditengah bangunan tidak kami rubuhkan karena itu merupakan bukti sejarah awal berdirinya masjid tersebut," kata Sofyan.
Di bagian depan masjid yang telah menyeberang jalan, terdapat bangunan madrasah berlantai dua dengan corak warna kekuningan. Di lokasi itu juga ada Taman Kanak-kanak Islam serta perpustakaan kecil. Bila masjid ini telah usai direnovasi, maka nantinya akan dapat menampung jamaah sekitar 3.000 orang. amin-NWR (lihat fotonya di bawah)
Masjid Raya Pekanbaru ini, tempatnya berada di Kecamatan Senapelan, salah satu sudut kota tertua di Ibukota Provinsi Riau itu. Letaknya bangunan masjid ini, di atas perbukitan kecil yang sayap sebelah kanannya terdapat makam Sultan Siak yakni Sultan Abdul Jalil pemimpin kerajaan IV dan Sultan Mahmud Ali anaknya sebagai pemangku kerajaan ke V. Antara anak dan ayahnya ini memiliki kekuasaan sekitar tahun 1778 hingga 1782.
Letak makam kerajaan ini hanya sekitar 10 meter dari bangunan masjid tersebut. Di depan makam ini, ada seonggok batu, sebagai pertanda bukti sejarah bahwa dulunya disitulah bangunan masjid pertama yang didirikan kesultanan Siak. Lokasi masjid ini hanya sekitar 100 meter dari bibir sungai Siak yang tercatat sebagai sungai terdalam di Indonesia.
Setelah runtuhnya masjid milik Kesultanan Siak, sekitar 40 depa atau langkah dari lokasi masjid yang dibangun sultan, didirikan Masjid Raya. Masjid Raya ini dibangun pertama kalinya dengan dana swadaya masyarakat Pekanbaru pada tahun 1928 silam. Jadi sebenarnya Masjid Raya itu bukan dibangun semasa Kesultanan Siak.
Selama ini banyak masyarakat termasuk media massa terjebak dalam sejarah yang salah. Masjid Raya Pekanbaru selalu disebut-sebut dibangun semasa Kesultanan Siak atau di era abad ke 17. Padahal asumsi semua itu sebenarnya salah. Dulu memang di sekitar Masjid Raya yang sekarang ini berdiri megah itu, ada bangunan masjid milik Kesultanan Siak. Namun jauh sebelum kemerdekaan, masjid bangunan itu telah termakan usia.
Saat Masjid Raya dibangun, kerajaan Siak kala itu telah perpusat dibagian hilir sungai Siak, yang sekarang menjadi Kabupaten Siak, di Riau. Namun sebelum sultan ke V wafat, dia sempat berwasiat pada masyarakat sekitarnya, bahwa masjid yang dia bangun, sebaiknya diperbesar lagi agar dapat menampung jamaah yang lebih banyak.
Pesan terakhir sultan inilah yang menjadi panutan masyarakat, yang akhirnya dibangun masjid yang jaraknya hanya 13 meter dari Masjid Sultan itu. Kala itu masjid ini berdiri dengan luas bangunan hanya sekitar 8x8 meter.
Tahun demi tahun, masjid ini terus direnovasi untuk diperluas. Hingga pada tahun 2008, masjid ini mendapat bantuan dana dari Pemerintah Provinsi Riau lebih dari Rp 100 miliar untuk melakukan perbaikan di sana sini. Dana sebanyak itu tidak hanya untuk bangunan masjid saja, namun untuk mengganti rugi tanah milik masyarakat sekitarnya.
Kini bangunan masjid yang kondisinya masih dalam renovasi yang diperkirakan baru akan selesai pada tahun 2012 mendatang itu, memiliki luas bangunan 36 m x 40 m dengan dua lantai. Bangunan masjid itu kini berdiri di atas tanah seluas 3 hektar. Bangunan ini akan memiliki halaman parkir di sebelah selatan dan akan memiliki taman sebelah utara sampai menuju ke Sungai Siak.
"Ke depan, masjid ini akan memimiliki halaman yang cukup luas. Selama ini halaman masjid sangat terbatas sekali. Dengan bantuan Pemprov Riau, masjid ini akan menjadi salah satu andalan mayarakat Riau sebagai masjid yang penuh dengan sejarah," kata pengurus Masjid Raya, Sofyan Hamid (61) dalam perbincangan dengan detikramadan.
Masjid ini memiliki arsitektur bergaya Timur Tengah. Bila dilihat dari konsep halaman yang luas, masjid ini menyerupai Masjidil Haram. Bila dilihat dari hiasan yang melekat pada sisi banguan luarnya, arsitekturnya bergaya Timur Tengah.
Kondisi masjid saat ini, memang belum tampak sempurna. Lapisan dindingnya masih terlihat sejumlah ukiran kaligrafi yang belum usai. Sedangkan di dalam bangunan masjid, terdapat sekitar 40 pilar yang sebagai penyangga untuk lantai dua.
Ada enam piliar di dalam bangunan masjid yang terlihat tidak menyangga ke lantai dua. Pilar ini sengaja dipertahankan sebagai bukti sejarah bahwa pilar tersebut merupakan tiang awal dibangunnya masjid ini tanpa ada besinya.
"Dulu saat masjid ini dibangun, tidak menggunakan tulang besi sebagai pertahanannya. Itu sebabnya, masjid ini terpaksa direnovasi untuk memperindahnya kembali. Namun pilar ditengah bangunan tidak kami rubuhkan karena itu merupakan bukti sejarah awal berdirinya masjid tersebut," kata Sofyan.
Di bagian depan masjid yang telah menyeberang jalan, terdapat bangunan madrasah berlantai dua dengan corak warna kekuningan. Di lokasi itu juga ada Taman Kanak-kanak Islam serta perpustakaan kecil. Bila masjid ini telah usai direnovasi, maka nantinya akan dapat menampung jamaah sekitar 3.000 orang. amin-NWR (lihat fotonya di bawah)
Sekilas Tentang Desa Wisata Buluh Cina
Bagi Anda yang suka berwisata, tak salah jika Anda bertandang ke Buluh Cina. Desa Wisata yang terdapat di Kabupaten Kampar, Riau ini menyimpan beragam pesona alam dan budaya yang tak ternilai.
Untuk sampai ke desa tersebut, tentunya tak memakan waktu lama. Jaraknya dari ibukota Provinsi Riau, Pekanbaru hanya sekitar 25 kilometer jalan darat.
Dari pusat kota Pekanbaru, Anda akan melewati jalan Kaharuddin Nasution menuju Simpang Tiga Pandau. Nah, begitu sampai di pertigaan jalan (lampu merah) jalan Kaharuddin Nasution-Jalan Pasir Putih, Anda tinggal membelok ke kiri, yakni ke jalan Pasir Putih.
Sekitar sepuluh kilometer kemudian, tepatnya setelah markas Arhanudse, Anda akan bertemu dengan gapura besar. Sekarang, Anda hanya lurus saja, jangan mengikuti jalan besar lagi.
Nah, melewati gapura besar itu, sekitar satu setengah kilometer, Anda akan kembali bertemu dengan sebuah gapura di sebelah kanan jalan. Itulah gapura menuju Desa Wisata Buluh Cina. Gampang dan dekat, kan?
Lalu apa saja yang bisa dinikmati di desa yang ada di tepian Sungai Kampar itu? Tentu banyak yang bisa dinikmati. Selain dapat menikmati pesona alam dengan pepohonan dan sungai serta suasana perkampungan dengan penduduknya yang ramah, Anda juga bisa memancing ikan. Kalau lagi untung, bisa saja Anda mendapat ikan besar. Seperti ikan Patin, ikan Baung, dan jenis ikan khas Sungai Kampar lainnya.
Selain itu, di sana juga bisa Anda temukan Danau di tengah hutan. Ikan di tasik itu juga cukup banyak loh. Pokoknya, Desa Wisata Buluh Cina merupakan lokasi atau tempat wisata yang mengasyikkan. Jangan takut, budaya menghargai dan menghormati pendatang sudah menjadi bahagian kehidupan warga di sana.
Desa Buluh Cina sendiri terdiri dari dua bagian. Keduanya dibelah oleh aliran sungai Kampar. Nah untuk menghubungkan kedua belahan desa ini, ada “kapal roro” mini bernama Tilan. Kapal inilah yang bolak balik mengantar orang dan barang menyeberangi sungai.
Untuk pengganti biaya operasional, setiap orang dipungut biaya Rp 2.000 sekali menyeberang. Tapi jika orang tersebut membawa sepeda motor, ongkosnya Rp 3.000 sekali menyeberang.
Aktivitas keseharian warga desa Bulu Cina sendiri beragam. Mulai dari bertani, berkebun, pencari hasil hutan, pencari ikan alias nelayan sungai hingga peternak ikan sungai. Makanya, di sana Anda juga akan menjumpai kerambah ikan yang banyak mengapung di tepian sungai Kampar. Yang pasti, jika Anda ada waktu luang, bertandanglah ke Desa Wisata itu.
Jika membawa keluarga, Anda juga tak perlu ragu. Soalnya, di sana juga ada taman rekreasi dengan museum mininya. Jika Anda datang pada saat berlangsung pesta pacu sampan, justru lebih seru lagi. Tapi, pesta budaya itu hanya sekali setahun dilangsungkan. amin-NWR (lihat fotonya di bawah)
Untuk sampai ke desa tersebut, tentunya tak memakan waktu lama. Jaraknya dari ibukota Provinsi Riau, Pekanbaru hanya sekitar 25 kilometer jalan darat.
Dari pusat kota Pekanbaru, Anda akan melewati jalan Kaharuddin Nasution menuju Simpang Tiga Pandau. Nah, begitu sampai di pertigaan jalan (lampu merah) jalan Kaharuddin Nasution-Jalan Pasir Putih, Anda tinggal membelok ke kiri, yakni ke jalan Pasir Putih.
Sekitar sepuluh kilometer kemudian, tepatnya setelah markas Arhanudse, Anda akan bertemu dengan gapura besar. Sekarang, Anda hanya lurus saja, jangan mengikuti jalan besar lagi.
Nah, melewati gapura besar itu, sekitar satu setengah kilometer, Anda akan kembali bertemu dengan sebuah gapura di sebelah kanan jalan. Itulah gapura menuju Desa Wisata Buluh Cina. Gampang dan dekat, kan?
Lalu apa saja yang bisa dinikmati di desa yang ada di tepian Sungai Kampar itu? Tentu banyak yang bisa dinikmati. Selain dapat menikmati pesona alam dengan pepohonan dan sungai serta suasana perkampungan dengan penduduknya yang ramah, Anda juga bisa memancing ikan. Kalau lagi untung, bisa saja Anda mendapat ikan besar. Seperti ikan Patin, ikan Baung, dan jenis ikan khas Sungai Kampar lainnya.
Selain itu, di sana juga bisa Anda temukan Danau di tengah hutan. Ikan di tasik itu juga cukup banyak loh. Pokoknya, Desa Wisata Buluh Cina merupakan lokasi atau tempat wisata yang mengasyikkan. Jangan takut, budaya menghargai dan menghormati pendatang sudah menjadi bahagian kehidupan warga di sana.
Desa Buluh Cina sendiri terdiri dari dua bagian. Keduanya dibelah oleh aliran sungai Kampar. Nah untuk menghubungkan kedua belahan desa ini, ada “kapal roro” mini bernama Tilan. Kapal inilah yang bolak balik mengantar orang dan barang menyeberangi sungai.
Untuk pengganti biaya operasional, setiap orang dipungut biaya Rp 2.000 sekali menyeberang. Tapi jika orang tersebut membawa sepeda motor, ongkosnya Rp 3.000 sekali menyeberang.
Aktivitas keseharian warga desa Bulu Cina sendiri beragam. Mulai dari bertani, berkebun, pencari hasil hutan, pencari ikan alias nelayan sungai hingga peternak ikan sungai. Makanya, di sana Anda juga akan menjumpai kerambah ikan yang banyak mengapung di tepian sungai Kampar. Yang pasti, jika Anda ada waktu luang, bertandanglah ke Desa Wisata itu.
Jika membawa keluarga, Anda juga tak perlu ragu. Soalnya, di sana juga ada taman rekreasi dengan museum mininya. Jika Anda datang pada saat berlangsung pesta pacu sampan, justru lebih seru lagi. Tapi, pesta budaya itu hanya sekali setahun dilangsungkan. amin-NWR (lihat fotonya di bawah)
Senin, 18 Juli 2011
"Soeman HS" Gudang Rekreasi Ilmu Di Tengah Kota Bertuah
Objek Rekreasi “Soeman HS”
Gudang Ilmu di Tengah Kota Bertuah
Gambaran Perpustakaan Daerah (Perpusda) di banyak tempat mungkin lebih banyak menampilkan kesan kusam dengan debu yang menyelimuti tumpukan buku.
Kesan sumpek dengan buku yang bertumpuk tidak teratur, berjubel di lorong, dan di meja bacaan. Gedungnya selalu menampilkan bangunan tua yang tidak terawat dengan cat mengelupas di sekujur dinding.
Namun gambaran seperti itu tidak terjadi di Pustaka Soeman HS Pekanbaru, Riau. Gedung bertingkat lima ini banyak memiliki keunikan. Baik dari konstruksi maupun fasilitas yang tidak dimiliki gedung buku lainnya.
Cirinya khas bangunan yang telah diresmikan pada 2008 itu, memiliki banyak tiang-tiang raksasa sebagai penopang bangunan unik tak ubahnya sebagai meja tempat untuk membaca Alquran (Reghal).
Selain memiliki keunikan gedung, lokasi pustaka yang menelan dana Rp158 miliar itu juga sangat strategis, yakni berada di jantung Ibu kota Riau tepatnya di Jalan Sudirman yang diapit oleh gedung Gubernur Riau dan Bank Indonesia (BI) Pekanbaru.
Bangunan yang dindingnya terbuat dari kaca transparan itu memudahkan pengunjung melihat keindahan Kota Bertuah itu. Saat memasuki gedung tersebut, suasana sejuk mulai terasa di pustaka itu.
Jauh dari kesan kumuh atau kotor dibandingkan perpustaan lain umumnya. Di sana semua buka terlihat rapi dan semua begitu nyaman. Jika haus, pengelola perpustakaan menyediakan kedai kopi Kimteng.
Ini membuat pengunjung perpustakaan tidak merasa bosan. Sehingga mereka nyaman saat berada di dalam perpustaan yang memiliki gedung lapang ini.
Selain itu, di lantai dasar perpustakaan itu pengunjung dimanjakan dengan Media Center dengan fasilitas 10 unit komputer yang dapat digunakan untuk mengakses internet.
Setiap pengunjung bebas memakai komputer, namun dibatasi hanya satu jam. Peraturan ini dilakukan agar para pengunjung dapat bergantian menggunakan fasilitas komputer tersebut.
Bagi pengunjung yang merasa kesulitan mencari buku, mereka bisa bertanya kepada petugas imformasi yang siap membantu.
Penulis pun melangkah ke lantai I dan lantai II. Di lantai ini pengunjung disajikan sejumlah buku yang berhubungan dengan mata pelajaran dan mata kuliah. Buku-buku tesis dan skripsi tersusun rapi di dua lantai ini.
Sementara di lantai III sengaja ditempatkan buku mengenai sejarah dan kebudayaan, serta pengetahuan umum. Di lantai ini, pengelola juga dilengkapi dengan ruang khusus diskusi.
Ruangan yang berisi meja bundar dan sejumlah tempat duduk, serta kaca transparan ini mampu menampung pengunjung antara 10 sampai 15 orang.
“Semua orang bebas menggunakannya," kata petugas di lantai III yang ditemui penulis. Sedangkan lantai IV dan V belum bisa dibuka untuk umum. Di lantai ini sengaja diperuntukkan pegawai yang bertugas.
Asnul (39), salah seorang pengunjung, mengamini gambaran nyaman gedung tersebut. Meski gemar “melahap” berbagai buku bacaan, ayah tiga anak ini awalnya tidak tertarik berkunjung ke Perpusda Soeman HS.
Awalnya dia mengaku enggan untuk meminjam buku di perpustakaan. Pasalnya dalam benak pria ini, kesan kotor dan kumuh sudah terpatri di dalamnya.
Hingga suatu hari, seorang kerabatnya bercerita tentang anaknya yang selalu merengek minta diantar ke perpustakaan Soeman HS. Bahkan, anaknya kerabatnya betah berjam-jam berada di sana hingga harus dibujuk rayu agar mau diajak pulang.
Heran dengan kisah tersebut, dia pun mencari waktu menyempatkan diri mampir ke perpustakaan Soeman HS untuk membunuh rasa penasarannya.
"Walau saya sudah lama di Pekanbaru, saya baru kali ini mengunjungi pustaka. Karena selama ini kesan pustakakan tidak rapi dan membosankan, tapi ternyata terbalik suasana di sini menyenangkan. Anak saya bawa di perpustakaan anak, sedangkan saya bisa santai minum kopi," kelakarnya sambil menghisap sebatang rokok kretek kesuakanya.
“Saya sebenarnya kurang tertarik baca buku, tapi karena di sini suasa enak, saya main internet saja. Apalagi di sini dilengkapi Wi-Fi, saya sering kemari dan memang betah," sebut Rahmad Kurniawan karyawan sebuah perusahaan elektronik yang ditemui terpisah. nwr-oz****(lihat fotonya di bawah)
Gudang Ilmu di Tengah Kota Bertuah
Gambaran Perpustakaan Daerah (Perpusda) di banyak tempat mungkin lebih banyak menampilkan kesan kusam dengan debu yang menyelimuti tumpukan buku.
Kesan sumpek dengan buku yang bertumpuk tidak teratur, berjubel di lorong, dan di meja bacaan. Gedungnya selalu menampilkan bangunan tua yang tidak terawat dengan cat mengelupas di sekujur dinding.
Namun gambaran seperti itu tidak terjadi di Pustaka Soeman HS Pekanbaru, Riau. Gedung bertingkat lima ini banyak memiliki keunikan. Baik dari konstruksi maupun fasilitas yang tidak dimiliki gedung buku lainnya.
Cirinya khas bangunan yang telah diresmikan pada 2008 itu, memiliki banyak tiang-tiang raksasa sebagai penopang bangunan unik tak ubahnya sebagai meja tempat untuk membaca Alquran (Reghal).
Selain memiliki keunikan gedung, lokasi pustaka yang menelan dana Rp158 miliar itu juga sangat strategis, yakni berada di jantung Ibu kota Riau tepatnya di Jalan Sudirman yang diapit oleh gedung Gubernur Riau dan Bank Indonesia (BI) Pekanbaru.
Bangunan yang dindingnya terbuat dari kaca transparan itu memudahkan pengunjung melihat keindahan Kota Bertuah itu. Saat memasuki gedung tersebut, suasana sejuk mulai terasa di pustaka itu.
Jauh dari kesan kumuh atau kotor dibandingkan perpustaan lain umumnya. Di sana semua buka terlihat rapi dan semua begitu nyaman. Jika haus, pengelola perpustakaan menyediakan kedai kopi Kimteng.
Ini membuat pengunjung perpustakaan tidak merasa bosan. Sehingga mereka nyaman saat berada di dalam perpustaan yang memiliki gedung lapang ini.
Selain itu, di lantai dasar perpustakaan itu pengunjung dimanjakan dengan Media Center dengan fasilitas 10 unit komputer yang dapat digunakan untuk mengakses internet.
Setiap pengunjung bebas memakai komputer, namun dibatasi hanya satu jam. Peraturan ini dilakukan agar para pengunjung dapat bergantian menggunakan fasilitas komputer tersebut.
Bagi pengunjung yang merasa kesulitan mencari buku, mereka bisa bertanya kepada petugas imformasi yang siap membantu.
Penulis pun melangkah ke lantai I dan lantai II. Di lantai ini pengunjung disajikan sejumlah buku yang berhubungan dengan mata pelajaran dan mata kuliah. Buku-buku tesis dan skripsi tersusun rapi di dua lantai ini.
Sementara di lantai III sengaja ditempatkan buku mengenai sejarah dan kebudayaan, serta pengetahuan umum. Di lantai ini, pengelola juga dilengkapi dengan ruang khusus diskusi.
Ruangan yang berisi meja bundar dan sejumlah tempat duduk, serta kaca transparan ini mampu menampung pengunjung antara 10 sampai 15 orang.
“Semua orang bebas menggunakannya," kata petugas di lantai III yang ditemui penulis. Sedangkan lantai IV dan V belum bisa dibuka untuk umum. Di lantai ini sengaja diperuntukkan pegawai yang bertugas.
Asnul (39), salah seorang pengunjung, mengamini gambaran nyaman gedung tersebut. Meski gemar “melahap” berbagai buku bacaan, ayah tiga anak ini awalnya tidak tertarik berkunjung ke Perpusda Soeman HS.
Awalnya dia mengaku enggan untuk meminjam buku di perpustakaan. Pasalnya dalam benak pria ini, kesan kotor dan kumuh sudah terpatri di dalamnya.
Hingga suatu hari, seorang kerabatnya bercerita tentang anaknya yang selalu merengek minta diantar ke perpustakaan Soeman HS. Bahkan, anaknya kerabatnya betah berjam-jam berada di sana hingga harus dibujuk rayu agar mau diajak pulang.
Heran dengan kisah tersebut, dia pun mencari waktu menyempatkan diri mampir ke perpustakaan Soeman HS untuk membunuh rasa penasarannya.
"Walau saya sudah lama di Pekanbaru, saya baru kali ini mengunjungi pustaka. Karena selama ini kesan pustakakan tidak rapi dan membosankan, tapi ternyata terbalik suasana di sini menyenangkan. Anak saya bawa di perpustakaan anak, sedangkan saya bisa santai minum kopi," kelakarnya sambil menghisap sebatang rokok kretek kesuakanya.
“Saya sebenarnya kurang tertarik baca buku, tapi karena di sini suasa enak, saya main internet saja. Apalagi di sini dilengkapi Wi-Fi, saya sering kemari dan memang betah," sebut Rahmad Kurniawan karyawan sebuah perusahaan elektronik yang ditemui terpisah. nwr-oz****(lihat fotonya di bawah)
Minggu, 17 April 2011
Mengintip Penangkaran Kupu-kupu di Rohul
Ada objek wisata yang cukup menarik di Rokan Hulu (Rohul). Bukan objek wisata alam atau sejarah loh. Tapi objek wisata yang sengaja dirancang untuk dunia pendidikan atau penilitian.
Objek yang dimaksud itu adalah pusat penagkaran kupu-kupu yang diklaim merupakan satu-satunya penangkaran kupu-kupu di Sumatra. Penangkaran ini berada di objek wisata air panas bumi Hapanasan, Desa Kaiti, Kecamatan Rambah.
Tentunya, dengan adanya penangkaran tersebut, objek wisata ini kian menambah potensi wisata unggulan di bumi seribu suluk (sebutan lain Rohul). Berjarak sekitar sembilan kilometer dari taman kota Pasir Pengaraian, objek wisata diyakini akan mampu meningkat kunjungan wisata ke daerah tersebut.
Di Rohul sendiri, cukup banyak objek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Di antaranya kawasan Gunung Bonsu dengan sejumlah sumber air panasnya, Danau Sipogas, air terjun Aek Matua, Bukit Suligi, dan beberapa objek wisata alam lainnya.
Sedangkan untuk wisata sejarah, di daerah itu juga masih terpelihara beberapa peninggalan sejarah. Peninggalan sejarah perjuangan pahlawan nasional, Tuanku Tambusai yakni berupa Benteng Tujuh Lapis di daerah Dalu-Dalu. Begitu juga dengan makam Raja-Raja Rambah di Desa Kumu.
Khusus objek wisata penangkaran kupu-kupu, menurut peneliti kupu-kupu, Yusri Syam, usaha penelitian lingkungan bidang kupu-kupu itu telah dimulai sejak 2003 hingga sekarang. Penelitian tersebut kerjasama pemerintah Kabupaten Rokan Hulu dan Provinsi Riaumelalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Riau.
Sebagai bukti kerjasama, saat media ini berkunjung ke lokasi penangkaran, saat itu sedang dibangun Gedung Pusat Informasi Kupu-kupu Sumatera. Bangunannya berukuran 8 x12 meter persis di samping museum kupu-kupu alias pusat informasi kupu-kupu.
Pusat Informasi Kupu-kupu itu sendiri telah dibuka untuk umum. Di dalamnya terdapat beragam spesies kupu-kupu. Tentunya, dengan adanya pusat informasi dan penangkaran kupu-kupu itu, setidaknya Pemerintah Rohul cukup serius dalam mengembangkan objek wisatanya sekaligus melestarikan alam dan lingkungan. Di gedung ini juga terdapat data dinding dalam bentuk visual penelitian mulai sejak tahun 2003.
Pusat penelitian ini nantinya berfungsi untuk memberikan informasi kepada masyarakat terutama, anak sekolah mengenai keberadaan kupu-kupu yang ada di Sumatera khususnya kawasan Rokan.
Penangkaran yang ada nantinya akan berguna sebagai restocking dan penyelamatan spesies kupu-kupu yang dilindungi ataupun yang terancam punah. Jika mengunjungi pusat informasi itu, pengunjung akan dapat melihat 150 spesies kupu-kupu yang ada di Rokan Hulu.
Dari 150 itu, 50 spesies di antaranya sudah diteliti ontogeni-nya. Mulai mulai dari telur hingga menjadi kupu-kupu.
Pokoknya, objek wisata itu cukup lengkap. Selain bisa meneliti spesies kupu-kupu, pengunjung juda dapat menikmati hangatnya air di pemandian air panas. Di tempat itu, terdapat dua sumber mata air panas bumi yang suhunya berkisar antara 50-60 derajat Celcius.
Bahkan, taman pendukung objek wisata itu pun terus dikemas dalam rangka menunjang kunjungan wisatawan ke tempat tersebut. Bagi wisatawan yang membawa anak-anak, di sana juga tersedia wahana permainan anak-anak.
Bahkan, gazebo dan tempat perisitihatan pun yang disguhjan beberapa instansi pemerintah terkait juga mewarnai objek wisata tersebut. Untuk info lebih lanjut, kunjungi segera objek wisata milik Rohul itu.amien-NWR (lihat fotonya di bawah)
Objek yang dimaksud itu adalah pusat penagkaran kupu-kupu yang diklaim merupakan satu-satunya penangkaran kupu-kupu di Sumatra. Penangkaran ini berada di objek wisata air panas bumi Hapanasan, Desa Kaiti, Kecamatan Rambah.
Tentunya, dengan adanya penangkaran tersebut, objek wisata ini kian menambah potensi wisata unggulan di bumi seribu suluk (sebutan lain Rohul). Berjarak sekitar sembilan kilometer dari taman kota Pasir Pengaraian, objek wisata diyakini akan mampu meningkat kunjungan wisata ke daerah tersebut.
Di Rohul sendiri, cukup banyak objek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Di antaranya kawasan Gunung Bonsu dengan sejumlah sumber air panasnya, Danau Sipogas, air terjun Aek Matua, Bukit Suligi, dan beberapa objek wisata alam lainnya.
Sedangkan untuk wisata sejarah, di daerah itu juga masih terpelihara beberapa peninggalan sejarah. Peninggalan sejarah perjuangan pahlawan nasional, Tuanku Tambusai yakni berupa Benteng Tujuh Lapis di daerah Dalu-Dalu. Begitu juga dengan makam Raja-Raja Rambah di Desa Kumu.
Khusus objek wisata penangkaran kupu-kupu, menurut peneliti kupu-kupu, Yusri Syam, usaha penelitian lingkungan bidang kupu-kupu itu telah dimulai sejak 2003 hingga sekarang. Penelitian tersebut kerjasama pemerintah Kabupaten Rokan Hulu dan Provinsi Riaumelalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Riau.
Sebagai bukti kerjasama, saat media ini berkunjung ke lokasi penangkaran, saat itu sedang dibangun Gedung Pusat Informasi Kupu-kupu Sumatera. Bangunannya berukuran 8 x12 meter persis di samping museum kupu-kupu alias pusat informasi kupu-kupu.
Pusat Informasi Kupu-kupu itu sendiri telah dibuka untuk umum. Di dalamnya terdapat beragam spesies kupu-kupu. Tentunya, dengan adanya pusat informasi dan penangkaran kupu-kupu itu, setidaknya Pemerintah Rohul cukup serius dalam mengembangkan objek wisatanya sekaligus melestarikan alam dan lingkungan. Di gedung ini juga terdapat data dinding dalam bentuk visual penelitian mulai sejak tahun 2003.
Pusat penelitian ini nantinya berfungsi untuk memberikan informasi kepada masyarakat terutama, anak sekolah mengenai keberadaan kupu-kupu yang ada di Sumatera khususnya kawasan Rokan.
Penangkaran yang ada nantinya akan berguna sebagai restocking dan penyelamatan spesies kupu-kupu yang dilindungi ataupun yang terancam punah. Jika mengunjungi pusat informasi itu, pengunjung akan dapat melihat 150 spesies kupu-kupu yang ada di Rokan Hulu.
Dari 150 itu, 50 spesies di antaranya sudah diteliti ontogeni-nya. Mulai mulai dari telur hingga menjadi kupu-kupu.
Pokoknya, objek wisata itu cukup lengkap. Selain bisa meneliti spesies kupu-kupu, pengunjung juda dapat menikmati hangatnya air di pemandian air panas. Di tempat itu, terdapat dua sumber mata air panas bumi yang suhunya berkisar antara 50-60 derajat Celcius.
Bahkan, taman pendukung objek wisata itu pun terus dikemas dalam rangka menunjang kunjungan wisatawan ke tempat tersebut. Bagi wisatawan yang membawa anak-anak, di sana juga tersedia wahana permainan anak-anak.
Bahkan, gazebo dan tempat perisitihatan pun yang disguhjan beberapa instansi pemerintah terkait juga mewarnai objek wisata tersebut. Untuk info lebih lanjut, kunjungi segera objek wisata milik Rohul itu.amien-NWR (lihat fotonya di bawah)
Minggu, 06 Maret 2011
Rumah Kapitan Sebagai Bukti Sejarah Bagansiapiapi
Nuansa Wisata Riau***
Bangunan Rumah Kapitan di kota Bagan Siapiapi, Kabupaten Rokan Hilir adalah salah satu warisan budaya yang kini masih tersisa. Bangunan dengan arsitektur perpaduan gaya tradisional Tionghoa dan Melayu ini seharusnya perlu dirawat, dijaga dan dilestarikan.
Di Provinsi Riau sendiri, boleh dikatakan tidak ada lagi bangunan Rumah Kapitan. Jadi, Rumah Kapitan yang ada di kota Bagansiapiapi ini adalah satu-satunya. Rumah Kapitan milik Yeo Ming San ini telah musnah dibongkar beberapa bulan lalu.
Ini membuktikan tidak adanya kepedulian mayarakat dan pemerintah terhadap bangunan bersejarah tersebut. Padahal, bangunan iut merupakan salah satu objek wisata yang cukup mendapat perhatian bagi setiap wisatawan yang berkunjung ke “kota ikan” itu.
Buktinya, setiap ada kunjungan wisata ke kota itu, sang guide alias pramuwisata selalu “menggiring” tamunya itu melihat bangunan yang terletak di belakang kelenteng Ing Hok Kiong. Tapi kini, bangunan itu sudah tinggal kenangan.
Bangunan terbuat dari papan ini telah dirubuhkan dan dibongkar demi semata untuk memenuhi kepentingan ekonomi atau kepentingan modernisasi. Sedangkan bangunan Rumah Kapitan yang paling kuno dan tersisa satu-satunya milik ahli waris Ba Ching masih berdiri kokoh tetapi tidak terawat.
Konon, Rumah Kapitan ini masih dihuni oleh keturunan ahli waris Ba Ching. Bangunan yang terletak di pertengahan tiga jalan yakni jalan Sumatera, jalan Pahlawan, dan jalan Mawar itu hingga kini masih berdiri meskipun mulai rapuh dimakan usia. Dan wisatawan pun masih kerap berkunjung ke objek wisata yang jaraknya sekitar 25 meter dari belakang kelenteng Ing Hok Kiong. Hanya berjalan sebentar di sebuah gang kecil, bangunan itu sudah bisa dilihat.
Bangunan Rumah Kapitan berusia hamper seabad yang ada di Bagansiapiapi ini memiliki sejarah penting. Khususnya menyangkut sistem kekuasaan Opsir (Kapitan ) Tionghoa semasa berkuasa di Bagan Siapiapi waktu silam.
Seperti diketahui, Kapitan Tionghoa merupakan sebutan yang diberi dan diciptakan oleh sistem Pemerintahan Kolonial Belanda dalam upaya mengendalikan dan mengatur komunitas masyarakat Tionghoa di daerah tersebut.
Jadi, Kapitan adalah pejabat yang diangkat Pemerintahan Kolonial Belanda masa itu. Biasanya, seorang Kapitan dipilih atas dasar ketokohan dan kekayaan serta punya pengaruh besar dalam masyarakat pedagang Tionghoa.
Tak heran, Kapitan Tionghoa pada umumnya adalah sosok yang sangat kaya di antara komunitas masyarakat Tionghoa. Kekayaan adalah bagian dari parameter penghargaan yang tinggi. Bahkan pengaruh ketokohannya pada komunitas masyarakat Tionghoa sangat dipercayai penuh.
Karena itu, seorang Kapitan memiliki peran penting dalam menjembatani kepentingan ekonomi, politik, dan sosial antara Pemerintah Kolonial Belanda dengan komunitas masyarakat Tionghoa di Bagansiapiapi saat itu.
Di awal abad XVII silam, telah ditemukan pemimpin Tionghoa di Batavia (sekarang Jakarta) menjadi Kapitan, Letnan dan Mayor adalah pejabat yang diangkat oleh Pemerintah Kolonial Belanda.
Kemudian di awal abad XIX, di Bagan Siapiapi sudah terbentuk salah satu pemimpin masyarakat Tionghoa yang diangkat menjadi Kapitan. Tentunya, dalam menjalankan kewenangan dan kekuasaannya, sang Kapitan ini diberi hak penuh untuk mendidirikan bangunan Rumah Kapitan. Bangunan itu berfungsi sebagai kantor operasional dalam menjalankan kekuasaan.
Layaknya system pemerintahan sekarang, fungsi umum Kapitan Tionghoa yakni membuat catatan daftar kelahiran (sekarang akte kelahiran), kematian, pernikahan, kedatangan atau migrasi mereka serta kegiatan kebudayaan atau tradisi komunitas masyarakat Tionghoa di daerah tersebut. amien-NWR (lihat fotonya di bawah)
Bangunan Rumah Kapitan di kota Bagan Siapiapi, Kabupaten Rokan Hilir adalah salah satu warisan budaya yang kini masih tersisa. Bangunan dengan arsitektur perpaduan gaya tradisional Tionghoa dan Melayu ini seharusnya perlu dirawat, dijaga dan dilestarikan.
Di Provinsi Riau sendiri, boleh dikatakan tidak ada lagi bangunan Rumah Kapitan. Jadi, Rumah Kapitan yang ada di kota Bagansiapiapi ini adalah satu-satunya. Rumah Kapitan milik Yeo Ming San ini telah musnah dibongkar beberapa bulan lalu.
Ini membuktikan tidak adanya kepedulian mayarakat dan pemerintah terhadap bangunan bersejarah tersebut. Padahal, bangunan iut merupakan salah satu objek wisata yang cukup mendapat perhatian bagi setiap wisatawan yang berkunjung ke “kota ikan” itu.
Buktinya, setiap ada kunjungan wisata ke kota itu, sang guide alias pramuwisata selalu “menggiring” tamunya itu melihat bangunan yang terletak di belakang kelenteng Ing Hok Kiong. Tapi kini, bangunan itu sudah tinggal kenangan.
Bangunan terbuat dari papan ini telah dirubuhkan dan dibongkar demi semata untuk memenuhi kepentingan ekonomi atau kepentingan modernisasi. Sedangkan bangunan Rumah Kapitan yang paling kuno dan tersisa satu-satunya milik ahli waris Ba Ching masih berdiri kokoh tetapi tidak terawat.
Konon, Rumah Kapitan ini masih dihuni oleh keturunan ahli waris Ba Ching. Bangunan yang terletak di pertengahan tiga jalan yakni jalan Sumatera, jalan Pahlawan, dan jalan Mawar itu hingga kini masih berdiri meskipun mulai rapuh dimakan usia. Dan wisatawan pun masih kerap berkunjung ke objek wisata yang jaraknya sekitar 25 meter dari belakang kelenteng Ing Hok Kiong. Hanya berjalan sebentar di sebuah gang kecil, bangunan itu sudah bisa dilihat.
Bangunan Rumah Kapitan berusia hamper seabad yang ada di Bagansiapiapi ini memiliki sejarah penting. Khususnya menyangkut sistem kekuasaan Opsir (Kapitan ) Tionghoa semasa berkuasa di Bagan Siapiapi waktu silam.
Seperti diketahui, Kapitan Tionghoa merupakan sebutan yang diberi dan diciptakan oleh sistem Pemerintahan Kolonial Belanda dalam upaya mengendalikan dan mengatur komunitas masyarakat Tionghoa di daerah tersebut.
Jadi, Kapitan adalah pejabat yang diangkat Pemerintahan Kolonial Belanda masa itu. Biasanya, seorang Kapitan dipilih atas dasar ketokohan dan kekayaan serta punya pengaruh besar dalam masyarakat pedagang Tionghoa.
Tak heran, Kapitan Tionghoa pada umumnya adalah sosok yang sangat kaya di antara komunitas masyarakat Tionghoa. Kekayaan adalah bagian dari parameter penghargaan yang tinggi. Bahkan pengaruh ketokohannya pada komunitas masyarakat Tionghoa sangat dipercayai penuh.
Karena itu, seorang Kapitan memiliki peran penting dalam menjembatani kepentingan ekonomi, politik, dan sosial antara Pemerintah Kolonial Belanda dengan komunitas masyarakat Tionghoa di Bagansiapiapi saat itu.
Di awal abad XVII silam, telah ditemukan pemimpin Tionghoa di Batavia (sekarang Jakarta) menjadi Kapitan, Letnan dan Mayor adalah pejabat yang diangkat oleh Pemerintah Kolonial Belanda.
Kemudian di awal abad XIX, di Bagan Siapiapi sudah terbentuk salah satu pemimpin masyarakat Tionghoa yang diangkat menjadi Kapitan. Tentunya, dalam menjalankan kewenangan dan kekuasaannya, sang Kapitan ini diberi hak penuh untuk mendidirikan bangunan Rumah Kapitan. Bangunan itu berfungsi sebagai kantor operasional dalam menjalankan kekuasaan.
Layaknya system pemerintahan sekarang, fungsi umum Kapitan Tionghoa yakni membuat catatan daftar kelahiran (sekarang akte kelahiran), kematian, pernikahan, kedatangan atau migrasi mereka serta kegiatan kebudayaan atau tradisi komunitas masyarakat Tionghoa di daerah tersebut. amien-NWR (lihat fotonya di bawah)
Kamis, 24 Februari 2011
Rokan Hulu dengan Kulinernya
Nuansa Wisata Riau***
Jika Anda berkunjung atau berwisata ke Kabupaten Rokan Hulu, jangan lupa mencicipi mencicipi beragam jenis kulinernya. Di "negeri seribu suluk" ini, ada beberapa masakan/makanan khas yang rasanya sudah tak asing lagi bagia sebagian orang.
Di antarahnya, campa cahang - asam kandih, campa cahang - krasak kincong, pendang ikan kawan, asampodeh taleh (asampodeh lalu), asampodeh lingkitang,asampodeh dagiang (daging), gulai lingkitang,gulai alo-alo, gulai jangek torong, gulai pucuk ubi tumbuk, gulai krasak labu cinu,gulai tunjang, paih, pokasam limbek, baka ikan kopiek, giliang kumangi , giliang rondang korambie, giliang paih, kokek asam durian,
giliang krasak, Sala toluo ayam, tumih daun gando, baka torong (aie asam torong) - aie lalu, baka torong (aie asam torong)- santan, kukuo montimun - aie, kukuo montimun - santan, sayuo ayie, joruk maman, anyang pakih,anyang ratuih, urap, sonop pisang, caco labu cino, jando pulangan, ulek-ulek, putila mandi, buah molako, sonop ompiang, Lalaju, bubuo lomak, bekang, lompuk durian, buah klopong, konji, nasi lomak, lopek pegu, lopeh buluh, lopek kutakuo, itak kopa, itak kopa panggang, tak kopa kukuih, buah inai, buah porio, tak talam, tobu kabong, aie podeh, klamai gegek, salam.dan lain sebaganya.
Nama-nama makanan dan minum ini dibeberapa tempat di Kabupaten Rokan Hulu juga bermacam-macam sesuai dengan dialeg daerah tersebut, menu-menu ini pada beberapa rumah makan juga disediakan dan silahkan Anda tanyakan, jika tersedia Anda beruntung sekali dapat mencicipinya
Sedangkan Gulai yang dikenal di daerah Rokan Hulu adalah :
Kokek Asam Durian, sejenis gulai santan kental yang dicampur asam durian (durian yang diasamkan) kemudian dimasak dengan ikan teri ditambah petai serta lebih lengkapnya di masukkan pucuk daun ubi.
Kemudian berbagai jenis masakan dengan khas ikan salai (ikan sungai yang diasap) yang lebih menarik lagi Lingkitang dan alo-alo (sejenis siput dan kerang sungai).
Sedangkan makanan kue-kue yang sangat tradisi dan langka adalah lopek totakuo (pulut yang dikukus didalam kantong semar)
Dan sesuai dengan kondisi geografisnya, ada makanan yang disebut anyang ratuih, yaitu makanan sayuran yang dibumbubuhi dari bermacam-macam dedaunan kayu hutan yang oleh masyarakat diyakini untuk obat.**NWR
Jika Anda berkunjung atau berwisata ke Kabupaten Rokan Hulu, jangan lupa mencicipi mencicipi beragam jenis kulinernya. Di "negeri seribu suluk" ini, ada beberapa masakan/makanan khas yang rasanya sudah tak asing lagi bagia sebagian orang.
Di antarahnya, campa cahang - asam kandih, campa cahang - krasak kincong, pendang ikan kawan, asampodeh taleh (asampodeh lalu), asampodeh lingkitang,asampodeh dagiang (daging), gulai lingkitang,gulai alo-alo, gulai jangek torong, gulai pucuk ubi tumbuk, gulai krasak labu cinu,gulai tunjang, paih, pokasam limbek, baka ikan kopiek, giliang kumangi , giliang rondang korambie, giliang paih, kokek asam durian,
giliang krasak, Sala toluo ayam, tumih daun gando, baka torong (aie asam torong) - aie lalu, baka torong (aie asam torong)- santan, kukuo montimun - aie, kukuo montimun - santan, sayuo ayie, joruk maman, anyang pakih,anyang ratuih, urap, sonop pisang, caco labu cino, jando pulangan, ulek-ulek, putila mandi, buah molako, sonop ompiang, Lalaju, bubuo lomak, bekang, lompuk durian, buah klopong, konji, nasi lomak, lopek pegu, lopeh buluh, lopek kutakuo, itak kopa, itak kopa panggang, tak kopa kukuih, buah inai, buah porio, tak talam, tobu kabong, aie podeh, klamai gegek, salam.dan lain sebaganya.
Nama-nama makanan dan minum ini dibeberapa tempat di Kabupaten Rokan Hulu juga bermacam-macam sesuai dengan dialeg daerah tersebut, menu-menu ini pada beberapa rumah makan juga disediakan dan silahkan Anda tanyakan, jika tersedia Anda beruntung sekali dapat mencicipinya
Sedangkan Gulai yang dikenal di daerah Rokan Hulu adalah :
Kokek Asam Durian, sejenis gulai santan kental yang dicampur asam durian (durian yang diasamkan) kemudian dimasak dengan ikan teri ditambah petai serta lebih lengkapnya di masukkan pucuk daun ubi.
Kemudian berbagai jenis masakan dengan khas ikan salai (ikan sungai yang diasap) yang lebih menarik lagi Lingkitang dan alo-alo (sejenis siput dan kerang sungai).
Sedangkan makanan kue-kue yang sangat tradisi dan langka adalah lopek totakuo (pulut yang dikukus didalam kantong semar)
Dan sesuai dengan kondisi geografisnya, ada makanan yang disebut anyang ratuih, yaitu makanan sayuran yang dibumbubuhi dari bermacam-macam dedaunan kayu hutan yang oleh masyarakat diyakini untuk obat.**NWR
Langganan:
Postingan (Atom)