Rabu, 30 Mei 2012

Pengalaman Pertama Mengunjungi Danau Zamrud

Ini adalah pengalaman pertama saya mengunjungi objek wisata alam Danau Zamrud di Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Di bawah danau berair keruh layaknya tumpahan air kopi hitam ini, konon banyak menyimpan sumber minyak bumi dan gas. Objek wisata ini sendiri masih asri, belum terjamah. Makanya, orang yang datang ke sini masih jarang. Apalagi transportasi khusus menuju Danau Zamrud tersebut belum ada karena masih berada di kawasan area operasional BOB atau perusahaan pengeboran minyak eks PT Caltex Pacific Indonesia. Gambar ini menunjukkan ketika saya bersama teman-teman menumpang speed boad dengan melintasi anak sungai yang mengalir dari danau. Wachh, kali ini saya betul-betul gamang. *(NWR)

Danau Zamrud Siak, Objek Wisata di Kawasan Suaka Margasatwa

Siak*** Danau Zamrud yang terletak di Desa Zamrud, Kabupaten Siak, Riau pada awalnya adalah dua danau yang berdampingan, yaitu Danau Pulau Besar dan Danau Bawah. Sejak tanggal 25 November 1980, kawasan danau dan hutan yang memiliki pemandangan khas hutan rawa primer ini ditetapkan pemerintah sebagai kawasan suaka margasatwa. Belakangan ini warga masyarakat bersama pemerintah daerah setempat mengusulkan kawasan seluas 2.500 hektar tersebut dijadikan sebagai kawasan taman nasional. Danau yang berada di hamparan ladang minyak bumi Coastal Plan Pekanbaru (CPP) Block yang dikelola pemerintah daerah Kabupaten Siak ini memiliki panorama alam yang memikat dan eksotik. Udaranya yang sejuk dan bersih, serta jauh dari hiruk pikuk penduduk dan kebisingan kota, dapat dijadikan sebagai tempat alternatif bagi pengunjung untuk melepas penat atau sekadar untuk mencari inspirasi. Keunggulan kawasan ini terletak pada perpaduan konsep Taman Nasional Ujungkulon di Provinsi Banten dan Danau Toba dengan Pulau Samosirnya yang terdapat di Provinsi Sumatera Utara. Di kawasan ini masih ditemukan berbagai jenis satwa yang langka dijumpai di tempat lain. Seperti ikan Arwana emas (schleropages formasus), ikan Balido, Harimau Sumatera (pantheratigris sumatrensis), Beruang Merah (helarctos malayanus), serta beraneka jenis ular. Bahkan kicauan burung Serindit (loriculus galgulus) yang menjadi ikon Provinsi Riau, dapat ditemukan di kawasan ini. Bila melihat Danau Zamrud dari udara, pantulan air berwarna hitam yang berada di tengah hutan rawa. Dan sumur bor minyak bumi hampir menyerupai permata Zamrud. Pada sore hari, saat matahari mulai terbenam, para penghuni kawasan ini seperti burung elang, kera dan bahkan harimau, mulai menampakan diri satu persatu. *(NWR)

Selasa, 29 Mei 2012

Danau Bingkuang Kampar, Objek Wisata Alternatif

Bangkinang*** Kenapa harus disebut Danau Bingkuang?? Mungkin karena danau ini bentuknya mirip dengan buah bingkuang. Danau ini terletak di Kabupaten Kampar Propinsi Riau dan berada di lintasan jalan lintas dari Pekanbaru menuju Sumatera Barat atau Sumatera Utara. Danau Bingkuang merupakan salah satu danau tempat wisata alam di Riau. Di danau ini terdapat jembatan yang sering disebut jembatan kembar Danau Bingkuang. Dan biasanya danau ini sering diadakan acara untuk mandi balimau saat Ramadhan tiba. Tak jauh dari danau tersebut terdapat pemukiman warga di tepi Sungai Kampar. Danau Bingkuang, dapat menjadi objek wisata alternatif. Di sini anda dapat piknik bersama keluarga anda sembari menikmati suasana alam yang masih asri. Kita hanya menempuh waktu perjalanan lebih kurang setengah jam dari Pekabaru. Setelah sampai di Danau Bengkuang, anda terus saja menuju ke arah sungai. Kearah kanan, kita akan dibawa melalui jalan menelusuri sungai Kampar. Jalan ini cukup bagus, tidak macet dan dapat sampai ke Rantau Berangin. Sebelum melalui jalan ini, sebaiknya BBM mobil atau motor terisi cukup. Karena di daerah danau tersebut belum ada SPBU. Di sungai tersebut kita juga dapat memancing. Sebuah rekreasi yang cukup nyaman dan tidak begitu jauh dari kota. Dan untuk oleh-olehnya, kita dapat membawa pulang “Lopek Bugi” khas Danau bingkuang. Sejenis makanan terbuat dari tepung beras pulut/ketan, berinti kelapa, dibungkus daun. Di sini juga terdapat beberapa warung yang menjual makanan cemilan tradisional lainnya. *(NWR)

Danau Napangga di Rohil Penuh dengan Legenda

Pekanbaru*** Danau Napangga di Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Provinsi Riau termasuk salah satu danau yang cukup menarik di Indonesia. Menurut legenda, danau ini merupakan tempat persinggahan dan peristirahatan raja dan permaisuri pada zaman dahulu. Danau Napangga terletak di kilometer 70-72 kilometer dari Ujung Tanjung di Kecamatan Tanah Putih yang merupakan ibukota Kabupaten Rokan Hilir. Posisi persis danau ini adalah di hulu sungai Batang Kumuh, Desa Tanjung Medan yang berbatasan dengan Rokan Hulu dan Provinsi Sumatera Utara. Luas danau ini berkisar 500 hektar. Permukaan airnya yang bening kebiruan memantulkan rasa tenang. Danau yang terbentuk secara alami ini pun sangat nyaman bagi Anda untuk berenang dan melakukan aneka aktivitas menyengkan lainnya. Ketenangan danau ini pun cocok bagi Anda yang sedang mencari suasana rileks dan inspirasi baru dalam berkarya. Ketenangan danau ini makin lengkap dengan kehadiran pohon nyiur yang melambai-lambai dan pohon-pohon lain yang menampilkan suasana rimbun di sekitar danau. Sangat asri dan menyegarkan. Tak jauh dari danau, Anda pun dapat menjumpai sumber air panas yang mempesona. Hal menarik lainnya, Danau Napangga merupakan habitat spesies ikan Arwana Sumatera atau ikan Khayangan yang langka dan berharga sangat mahal. Tidak jauh dari kawasan ini pun tinggal masyarakat Bonai yang merupakan salah satu suku asli penduduk yang tinggal di Rohil. Anda pun dapat membeli suvenir di sentra kerajinan penduduk setempat. Tak perlu khawatir, jalan menuju Danau Napangga sudah dilapisi aspal sehingga memudahkan Anda yang berkendara dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Sangat menyenangkan dan menyegarkan. Anda dapat menyambanginya sebagai salah satu target destinasi saat berkelana di bumi Riau. *(NWR)

PLTA Koto Panjang Miliki Panorama Alam Nan Indah

Pekanbaru*** Kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Koto Panjang yang berlokasi di Desa Merangin, Kabupaten Kampar, Riau, ini memiliki panorama alam yang indah dengan latar deretan bukit-bukit yang ditumbuhi berbagai jenis pepohonan. Dari jauh terlihat bentangan Bukit Barisan yang menjadi hulu air waduk ini. Air danaunya yang biru seakan-akan menarik pengunjung untuk mengarungi areal sekitar 12.900 hektar ini dengan perahu atau pompong. Kawasan yang asri dan tenang ini sangat cocok dijadikan tempat untuk melepaskan penat sehabis bekerja seharian atau sekadar untuk mencari inspirasi. Kawasan PLTA Koto Panjang tidak semata-mata sebagai sumber tenaga listrik dan sumber air bersih. Tapi juga menyimpan nilai historis bagi masyarakat Kabupaten Kampar dan Kabupaten Lima Puluh Kota khususnya serta masyarakat Provinsi Riau dan Sumatera Barat pada umumnya. Kawasan PLTA Koto Panjang sendiri mulai dibangun pada tahun 1979. Kala itu Perusahaan Listrik Negara (PLN) berencana membangun dam skala kecil di Tanjung Pauh untuk memanfaatkan air Batang Mahat, anak Sungai Kampar Kanan. Pada September dan November 1979, TEPSCO (Tokyo Electric Power Service Co. Ltd.), sebuah perusahaan konsultan Jepang, mengirim tim pencarian proyek (project finding) ke Sumatera. Dari hasil survey yang dilakukan, TEPSCO mengusulkan pembangunan waduk berskala besar di pertemuan Sungai Kampar Kanan dengan Batang Mahat yang lokasi damsitenya di daerah Koto Panjang. Pada Januari 1993, pembangunan proyek yang terletak di tapal batas Provinsi Riau dengan Provinsi Sumatera Barat ini pun dimulai. Proyek bendungan ini pun selesai pada Maret 1996. Begitu selesai, bendungan ini langsung diujicoba dengan penggenangan air. Tepat Jumat, 28 Februari 1997, penggenangan air secara resmi dilakukan. Hingga kini, PLTA Koto Panjang bukan saja menjadi sumber tenaga listrik di Riau. Tapi juga bagian dari objek wisata yang dimiliki Provinsi Riau. Ini dibuktikan dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung ke PLTA Koto Panjang untuk sekedar menikmati keindahan alam nan asri. *(NWR)

Senin, 28 Mei 2012

Keindahan Pantai Selat Baru Bengkalis Sungguh Menakjubkan

Bengkalis*** Keindahan pantai Selat Baru, Bengkalis sungguh menakjubkan. Pantainya begitu sempurna sehingga mengingatkan setiap orang akan kebesaran sang Khalik. Memang, ketika berbicara mengenai kemolekan berbagai pantai di Indonesia, tentunya takkan ada habis-habisnya. Paling dikenal Pantai Kuta di Bali. Namun, Pantai Selat Baru ini juga menyimpan kekayaan wisata alam yang patut dipromosikan dan dikunjungi. Banyak cerita yang diambil bila Anda sudah mengunjungi Pantai Selat Baru ini. Kelebihan dimiliki Pantai Selat Baru ini sekan-akan banyak yang tidak mengetahuinya dan tidak dimanfaatkan dengan baik. Bagi pengunjung yang membutuhkan ketenangan dan menghilangkan kepenatan selama aktivitas, Pantai Selat Baru inilah salah satu “obatnya”. Keindahan Pantai Selat Baru dinobatkan Pemerintah Kabupaten Bengkalis sebagai pantai terindah kedua di Bengkalis setelah Pantai Rupat Utara di Pulau Rupat yang memiliki potensi keindahan skala dunia. Sebutan Pantai Selat Baru dikutip dari nama desa di pantai ini berada, yakni Desa Selat Baru, yang merupakan Ibu Kota Kecamatan Bantan. Suasananya yang tenang, membuat pantai ini sebagai alam yang berjasa bagi turis yang haus akan keindahan alam. Kita semakin takjub ketika melihat pantai Selat Baru ini begitu bersih. Ditemani angin lembut dan sajian makanan seafood yang dijual di tepi pantai, seakan-akan keberadaanya mengalahkan pantai-pantai lain di Indonesia. Keindahan alam Pantai Selat Baru ini tak kalah menariknya dengan Pantai Kuta, Bali. Banyak kepiting, udang dan kerang di tepi pantai, sebagai tanda tak adanya pencemaran oleh limbah, seperti pantai-pantai umumnya. Kalau mau ke sini, dari pusat kota Bengkalis, paling-paling Anda hanya membutuhkan waktu 45-60 menit dengan menggunakan kendaraan bermotor. Tak ada salahnya bila Pantai Selat Baru ini dapat menjadi salah satu alternatif wisata pantai bagi wisatawan dan penggemar pantai. Selain Anda disuguhi keindahan pantai yang ada, Anda juga dapat menikmati makanan yang dapat dibeli di pinggiran pantai. Di pinggir pantai ini, banyak sekali warung-warung kecil tersusun rapi terbuat dari kayu berjualan makanan dan minuman. Mulai minuman segar kelapa muda hingga menyajikan berbagai paket masakan laut bagi wisatawan. Terutama kerang rebus dan sambal. Makanan ini disajikan dengan panas, karena harus menunggu penjual memasaknya terlebih dahulu. Harganya yang relatif murah, namun rasanya seperti di restoran seafood berbintang. Dipadukan dengan sambal merah, hijau, dan hitam khas Bengkalis. Warganya ramah, membuat Anda tak perlu sungkan untuk bercerita banyak tentang keberadaan Pantai Selat Baru ini. Menurut sebahagian warga yang tinggal di sekitar pantai, wisatawan ramai mengunjungi Selat Baru saat akhir pekan. Pantai yang memiliki hamparan pantai sepanjang 2 kilometer dengan jarak sekitar 200 meter dari bibir pantai ini, hanya menempuh sekitar 30-45 menit kita bisa sampai ke Melaka, Malaysia dengan menggunakan kapal yang pelabuhannya di sekitar Selat Baru. Bila cuaca cerah, dari Pantai Selat Baru ini bisa terlihat samar-samar Kota Melaka. Pantai yang terletak di utara Ibukota Kabupaten Bengkalis ini, samar-samar bisa melihat Gunung Ledang di Negeri Jiran ini. Menurut legenda, di Gunung Ledang inilah Laksamana Hang Tuah dan Hang Jebat berkelahi yang akhirnya Hang Jebat wafat. Selain itu, Pemerintah Kabupaten Bengkalis menjadikan kawasan ini sebagai perhelatan kesenian dan kebudayaan tradisional Melayu dan berbagai perlombaan rutin setiap tahunnya. Seperti lomba perahu jong, gasing, dan layang-layang. Meskipun pantai ini belum banyak diketahui orang, tapi pantai ini memiliki prosfektif sangat cerah bila dijadikan lokasi wisata alam pantai yang juga dapat diandalkan. Keindahan yang tidak kalah dibandingkan dengan pantai-pantai di Riau lainnya. Bila ingin berwisata ke Pantai Selat Baru, pastinya Anda jangan lupa membawa kamera photo untuk mengabadikan keindahan dan alaminya pantai. *(NWR)

Minggu, 07 Agustus 2011

Bertandang Sejenak ke Kampung Wisata Bokor Riau

AHAD itu sekira pukul 07.00 WIB. Semua peserta helat budaya dengan tema ‘’Menghulu Bokor Muliakan Nilai’’ yang terdiri dari kelompok seni dari berbagai daerah di Riau serta negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand berkumpul di pelabuhan kecil kampung Bokor untuk memulai petualangan. Sebuah perjalanan yang diberi nama wisata sungai menuju lokasi Mate Suruk (mata air yang tak pernah kering-demikian warga tempatan mempercayainya) yang akan ditempuh selama kurang lebih satu jam dengan bersampan-sampan ria.

Pagi yang cerah. Semua peserta terlihat tidak sabar untuk memulai perjalanan. Apalagi wisata sungai yang dimaksud jarang sekali dilaksanakan, meski Riau merupakan negeri yang dianugerahi sungai-sungai besar seperti Sungai Siak, Indragiri, Rokan dan Kampar. Bahkan setiap negeri, baik kawasan daratan maupun kepulauan/pesisir memiliki sungai masing-masing yang menjadi sumber penghidupan masyarakat pendukungnya. Salah satu sungai itu adalah Sungai Bokor nan eksotik dengan apitan hutan bakau yang lebat.

Belasan perahu yang sudah dipersiapkan terombang-ambing dimainkan riak kecil, diciptakan angin di tepian sungai, disela-sela raungan mesin kapal kayu. Beberapa warga kampung juga terlihat sibuk mengangkat barang dagangannya untuk dibawa dengan kapal tersebut. Barang-barang dagangan berupa durian, manggis, cempadak dan sebagainya itu segera diangkut ke Selatpanjang untuk dijajakan. Buah-buah nan ranum itu tentunya mengundang selera semua peserta Bokor Riviera karena mereka juga hendak diajak langsung memetik buah di kebunnya.

Ketidaksabaran itu terlihat saat mereka dipersilahkan pedayung menaiki perahu yang akan mereka kemudikan. Langkah bergegas dan saling berebutan menjadi pemandangan yang menggelikan. Ditingkah pula dengan tawa riang sesama mereka untuk bisa berada di satu perahu karena hanya berkapasitas untuk 5-6 orang saja. Bahkan belasan anak seusia sekolah dasar (SD), yang juga menjadi salah satu peserta Fiesta Bokor Riviera terlihat tak mau ketinggalan dan menaiki perahu dengan gembira. Satu persatu, sampan pun di kayuh, meninggalkan hiruk-pikuk pelabuhan kecil tersebut.

‘’Ini baru namanya berwisata. Kita dibawa menyusuri sungai untuk menikmati alam Bokor yang eksotik. Sungguh ini sebuah perjalanan yang bagi saya sangat menyenangkan. Ini konsep wisata alam disenangi banyak wisatawan, terutama wisatawan manca negara,’’ ulas Pimpinan PT FIK Tour and Travel, Ake Rahayu, salah satu pihak travel agen yang ambil bagian pada helat budaya itu.

Mendengar ungkapan yang melompat begitu saja dari mulut Ake, salah seorang pemandu perjalanan, Atoy langsung menimpali, ‘’Ini baru awal dan nanti kita akan masuk jauh ke dalam anak-anak sungai yang menusuk ke ceruk-ceruk hutan bakau. Akan tambah menyenangkan. Belum pernah kan?’’ katanya menantang, sembari menunjuk satu rumah batu bercat putih yang disebutnya sebagai tempat pengasingan orang-orang penyakit kusta yang sudah disana sejak zaman Jepang.

Beberapa ekor beruk/monyet bergelantungan di dahan-dahan bakau, berteriak-teriak lantang seakan menyambut para wisatawan dengan keramahannya. Burung elang dan lainnya terlihat terbang rendah dan sesekali hinggap di ranting-ranting. Suasana itu menambah keceriaan pagi yang damai. Keceriaan itu kian bertambah mengasyikkan saat perahu yang membawa anak-anak tadi bernyanyi dan melepas tawa keluguannya.

Seakan tidak terbersit di benak mereka bahwa perjalanan itu, meski menyenangkan juga sewaktu-waktu menyimpan bahaya. Apalagi tidak satupun dari mereka yang bisa berenang, jika perahu oleng atau terbalik. Namun semua ketakutan itu seakan terabaikan begitu saja.

‘’Tak lama lagi, kita akan masuk ke anak sungai untuk mencapai Mate Suruk. Di ujung anak sungai itu nanti kita akan sampai ke tujuan utama kita, kebun durian. Hari ini kita akan berpesta durian Bokor sepuasnya,’’ tambah Atoy.

Benar saja, satu persatu perahu memasuki anak sungai yang dimaksudkan. Makin lama, anak sungai itu makin mengecil bahkan hanya bisa dilalui satu perahu saja. Belasan perahu pun berjejer, mengikuti lekuk-lekuk sungai berair payau tersebut. Semakin kecil lintasannya, semakin sulit perjalanan itu ditempuh. Ditambah lagi air yang kian dangkal dengan akar bakau yang melintang kesana-kemari. Wajah-wajah yang ceria tampak tegang. Namun hanya beberapa saat, meski dengan susah payah sampai juga ke tujuan. ‘’Untung saja air masih pasang, jadi kita bisa berkayuh. Kalau surut, terpaksa kita berjalan di atas lumpur,’’ teriak salah seorang pendayung perahu lainnya.

Sesampainya ke lokasi, semua yang ada di atas perahu melompat ke air sungai sedalam lutut orang dewasa. Wajah keceriaan mulai terpancar saat menyaksikan puluhan pohon durian dengan buah yang bergantungan di ujung-ujung ranting. Bahkan tawa mereka kian merekah saat melihat ratusan durian, manggis dan cempedak diletakkan begitu saja di atas sebuah meja untuk segera di santap bersama.

Ketua Panitia Fiesta Bokor Riviera, Sopandi SSos menjelaskan, transaksi di kebun durian itu mencapai Rp4 juta dan masyarakat benar-benar terbantu karenanya. Sehingga mereka tidak perlu lagi, mengangkut dagangannya ke Selatpanjang sekitarnya untuk dijual. ‘’Inilah yang kami inginkan. Kampung kami dikenal kian luas dengan berbagai kekayaan yang dimilikinya. Kalau tidak kami mulai sekarang kapan lagi,’’ ulasnya menegaskan.

Lebih menarik lagi, saat kembali ke pelabuhan Bokor di sore harinya, warga Bokor sekitarnya tampak memadati tepian sungai. Mereka terlihat antusias menyaksikan lomba lari di atas tual sagu yang berjejer dipermukaan sungai. Seru, kocak dan menyenangkan. ‘’Ini salah satu dari agenda kita. Lomba lari di atas tual sagu yang tidak dilaksanakan di daerah lain,’’ tambah Sopandi.

Pesta Budaya yang Melenakan
Sebagai salah satu daerah kepulauan, Kabupaten Kepulauan Meranti memiliki kearifan yang luar biasa dan sampai hari ini belum semua kearifan-kearifan tersebut yang terkelola dan terpublikasi secara baik. Sungai Bokor misalnya. Sungai yang berada di Pulau Rangsang ini menyimpan banyak sekali catatan sejarah dan kejayaan peradaban Melayu masa lampau yang sampai saat ini belum terlestarikan.

Fiesta Bokor Riviera 2011 ini sendiri dilaksanakan Dewan Kesenian Kepulauan Meranti bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kepulauan Meranti di Desa Bokor, Kecamatan Rangsang Barat. Sebuah kawasan terbaik di hulu Sungai Bokor.

Lokasinya bisa ditempuh menggunakan kapal kayu atau pompong dengan jarak tempuh sekitar 40-45 menit dari pelabuhan Kota Selatpanjang. Selain dua institusi di atas, pelaksanaan helat budaya level Asean tersebut juga tidak lepas dari peran serta Budayawan Riau, Yusmar Yusuf selaku penggagas dan Sanggar Bathin Galang sebagai pelaksana kegiatan.

Kerja sama yang baik antara semua pihak tersebut menjadi faktor utama suksesnya pelaksanaan Fiesta Bokor Riviera 2011 lalu. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuh-kembangkan minat dan bakat para insan seni dalam memahami dan melestarikan budaya, sekaligus untuk membuka wawasan terhadap seni kekinian. Dialog antara seni musik, teater, sastra dan semacamnya ini jelas akan meningkatkan daya apresiasi masyarakat. Paling tidak, kegiatan ini dapat menjadikan Kepulauan Meranti secara umum sebagai salah satu pusat kebudayaan Melayu di Riau. Secara otomatis, kegiatan ini dapat pula meningkatkan perekonomian masyarakat tempatan.

Sebagai sebuah upaya positif, baik untuk mengembangkan kebudayaan Melayu, maka pada sore harinya berbagai permainan rakyat pun digelar. Lebih menarik dan ditunggu-tunggu tentu saja menampilan grup-grup seni, baik tradisi maupun modren dari berbagai daerah Riau dan negara tetangga di atas panggung utama di lapangan sepakbola Bokor. Selain komunitas lokal seperti Sanggar Bathin Galang, tampil pula dua grup tradisi suku Akit dengan Joget Sonde dan Kedubang. Tidak ketinggalan grup asal Malaysia dengan Fauziah Gambus serta grup Thaisawan Songkla asal Thailand.

Ribuan orang yang memadati lapangan pada malam harinya benar-benar mendapatkan tontonan luar biasa. Bahkan Bupati Kabupaten Kepulauan Meranti, Irwan Nasir tak dapat menahan diri untuk naik ke atas panggung dan bernyanyi. Penonton juga dibuat ter pingkal-pingkal menyaksikan penampilan drama anak-anak asal Sanggar Keletah Budak Pekanbaru yang membawakan cerita Batang Tuaka (cerita rakyat Inhu) dengan pola pemanggungan teater tradisi Melayu Mak Yong. Pembacaan puisi oleh penyair Samson Rambah Pasir (Kepri) dan Jefri al Malay (Bengkalis).

Masih banyak lagi penampilan-penampilan grup seni dari berbagai daerah yang tentunya memberikan hal baru bagi masyarakat tempatan dan sekitarnya.
‘’Sebelumnya kampung kami ini sepi dari pesta-pesta semacam ini dan kami sangat suka. Ditambah lagi, kami bisa berjualan dan mendapatkan penghasilan lebih,’’ ungkap salah seorang Kepala Rukun Tetangga (RT) di kampung itu M Yazid.

Kemasan kegiatan digelar secara alami dan ratusan peserta undangan tidak diinapkan di hotel melainkan di rumah-rumah warga. Pola home stay semacam ini juga cukup baik sehingga antara peserta dan warga dapat saling berinteraksi secara alami pula.
‘’Agenda budaya dan wisata semacam ini sangat menjanjikan dan perlu menjadi perhatian kita bersama. Namun masih banyak hal yang perlu ditingkatkan lagi seperti memaksimalkan sarana-prasarana angkutan dan semacamnya,’’ jelas Ake Rahayu yang mengaku sangat terpukau dengan alam Bokor.

Kades Sonde, T Hasan yang bertindak sebagai Pimpinan Grup Joget Sonde sangat bersyukur dengan adanya kegiatan tersebut. Paling tidak, kelompok seni Suku Akit yang dibinanya sejak 1970-an itu bisa tampil sepanggung dengan grup-grup daerah lain, bahkan negara tetangga.
‘’Kami sangat berterima kasih pada panitia acara yang mau mengundang kami dalam kegiatan ini. Kami berharap tahun depan, kegiatan serupa tetap dilaksanakan. Minimal, kegiatan ini membuat usia Joget Sonde kian bertambah,’’ terangnya.

Pada penutupan acara, Bupati Kepulauan Meranti, Irwan Nasir menegaskan, pemerintah kabupaten sangat berbangga hati atas pelaksanaan kegiatan Fiesta Bokor Riviera ini dan mendukung penuh agar kegiatan tersebut menjadi agenda tahunan. Tidak hanya itu, Irwan juga mendorong kampung-kampung lainnya untuk melakukan hal serupa sehingga kebudayaan Melayu dan pariwisata bahari di daerah itu dapat mendatangkan banyak wisatawan dari berbagai daerah dan negara. Paling tidak, helat budaya ini dapat meningkatkan perekonomian masyarakat tempatan.

‘’Kami mencanangkan Bokor menjadi kampung wisata dan berharap terus membenahi berbagai kekurangannya. Pemerintah akan men-support agar kegiatan ini terus dilaksanakan setiap tahunnya dan diikuti oleh kampung-kampung disekitarnya,’’ ungkapnya panjang lebar.

Pernyataan serupa juga dilontarkan Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Riau, RM Yamin. Dikatakannya, sebagai negeri yang berazam menjadi pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara, Riau perlu memperbanyak kegiatan-kegiatan serupa. Sehingga program pembinaan masyarakat benar-benar sampai ke masyarakat paling bawah. Karenanya, Yamin meminta semua pihak untuk saling mendukung agar terwujudnya hal tersebut.
‘’Tanpa dukungan masyarakat, pemerintah tidak -bisa berbuat apa-apa. Sinergi pemerintah, berbagai pihak termasuk swasta sangat diharapkan,’’ tambahnya meyakinkan disela-sela kegiatan yang bertepatan dengan musim buah tersebut.
Bokor nan Eksotik
Ransang adalah pulau yang unik di Kepulauan Meranti. Jika Merbau dijuluki tanah tua, maka Ransang adalah tanah embun di Negeri Fajar tersebut. Kalau di Pulau Tebing Tinggi kita banyak menemukan ikon negeri itu yakni sagu, di Ransang tak hanya ada rumbia, tapi lebih dari itu.

Jika kita berjalan ke kampung-kampung lainnya di sekitar Bokor, maka lintasan-lintasan pemandangan yang dijumpai sungguh menyentuh dawai perasaan atau hati. Ada kebun getah, kelapa, kopi, pinang, kakao, saka, hingga taman padi yang permai diselingi panggung-panggung kecil tempat beristirahat. Kebun-kebun ini silih berganti dan kadang menyatu dalam sebuah komposisi yang unik ibarat sebuah lukisan. Di Ransang, kita merasakan nafas Meranti yang berbeda.

Pohon buah-buahan pun begitu mudah dijumpai. Mulai dari yang biasa seperti cempedak, manggis, jambu, langsat dan duku, hingga buah-buahan rimba yang sudah mulai langka seperti tampui, buah kundang (mirip anggur), paye (seperti salak tapi lebih kecil), pulas, lekop, sentul, semprung (seperti duku tapi agak besar) dan lain sebagainya. Batang-batang durian raksasa tumbuh di mana-mana, tinggi menjulang, menjilat angkasa. Belum lagi ada kebun durian tua di hulu sungai serta keindahan hutan bakau (mangrove) yang memukau.

‘’Jadi, selain menyajikan beberapa kegiatan dalam Fiesta Bokor Riviera seperti puisi, teater, lomba lukis, seni tari dan seni musik, para pengunjung juga dapat menikmati buah-buahan dan keindahan Bokor ataupun desa-desa lain di Pulau Ransang,’’ tutur Pandi yang juga giat menyiarkan helat ini di grup facebook, Fiesta Bokor Riviera. nwr-rpc****(fotonya ada di bawah)