Senin, 31 Januari 2011

“Soeman HS” Andalan Pariwisata Kota Bertuah

Nuansa Wisata Riau***

Kota Pekanbaru memiliki sejumlah sejumlah objek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya adalah gedung perpustakaan Soeman HS yang berdiri megah di samping gedung kantor perkantoran Gubernur Riau, Jalan Jenderal Sudirman pekanbaru.

Konon, gedung perpustakaan tersebut merupakan terbesar dan termegah di Nusantara. Bahkan, keunikan bentuk bangunannya pun mampu membuat setiap pendatang yang mengunjungi kota kota bertuah terkesima. Tak heran, gedung ini pun menjadi salah satu ikon pariwisata ibukota Provinsi Riau.

Setiap harinya, jumlah pengunjungnya gedung berlantai enam itu selalu ramai. Selain menyediakan beragam bacaan, di objek wisata pendidikan ini juga tersedia fasilitas lainnya. Seperti fasilitas hotspot. Bahkan, pengunjung juga bisa menikmati suguhan kuliner yang terdapat di lantai dasar dengan hawa sejuk yang keluar dari Air Conditioner.

Ketika sedang membaca buku, misalnya. Pengunjung bisa sambilan memandang suasa kota Pekanbaru dari lantai ketinggian. Sebab, dinding gedung setiap tingkatan lantainya terbuat dari kaca. Sehingga transparan.

Pengunjung yang datang ke objek wisata itu, selain dari kalangan pelajar dan mahasiswa, ternyata juga banyak dari kalangan umum. Apalagi pada Sabtu dan Minggu. Pengunjungnya meningkat tajam. Nah, bagi Anda yang belum menginjakkan kakinya di gedung tersebut,silahkan datang. Parkir tak bayar alias gratis. (NWR)

Kamis, 27 Januari 2011

Menengok Budaya Purba dari Candi Muara Takus

Nuansawisatariau***

Bingung mau liburan kemana? Tak ada salahnya Anda memilih Candi Muara Takus sebagai salah satu alternative tempat liburan. Selain berwisata juga menambah wawasan tentang candi tersebut.
Candi Muara Takus adalah sebuah candi Budha yang terletak di desa Muara Takus, Kecamatan XII Koto Kampar jaraknya kurang lebih 135 kilometer dari Kota Pekanbaru. Jarak antara kompleks candi ini dengan pusat desa Muara Takus sekitar 2,5 kilometer dan tak jauh dari pinggir sungai Kampar kanan.
Kompleks candi ini dikelilingi tembok berukuran 74 x 74 meter di luar arealnya terdapat pula tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer yang mengelilingi kompleks ini sampal ke pinggir sungai Kampar Kanan. Di dalam kompleks ini terdapat pula bangunan Candi Tua, Candi Bungsu dan Mahligai Stupa serta Palangka. Bahan bangunan candi terdiri dari batu pasir, batu sungai dan batu bata.
Menurut sumber tempatan, batu bata untuk bangunan ini dibuat di desa pongkai, sebuah desa yang terletak di sebelah hilir kompleks candi. Bekas galian tanah untuk batu bata itu sampai saat ini dianggap sebagai tempat yang sangat dihormati penduduk.
Untuk membawa batu bata ke tempat candi, dilakukan secara beranting dari tangan ke tangan. Cerita ini walaupun belum pasti kebenarannya memberikan gambaran bahwa pembangunan candi itu secara bergotong royong dan dilakukan oleh orang ramai.
Kompleks Candi Muara Takus, satu-satunya peninggalan sejarah yang berbentuk candi di Riau. Candi yang bersifat Buddhistis ini merupakan bukti pernahnya agama Buddha berkembang di kawasan ini.
Kendatipun demikian, para pakar purbakala belum dapat menentukan secara pasti kapan candi ini didirikan. Ada yang mengatakan abad kesebelas, ada yang mengatakan abad keempat, abad ketujuh, abad kesembilan dan sebagainya. Yang jelas kompleks candi ini merupakan peninggalan sejarah masa silam.
Bangunan utama di kompleks ini adalah sebuah stupa yang besar dengan sebuah bentukan menara yang sebagian besar terbuat dari batu bata dan sebagian kecil batu pasir kuning. Halaman candi ini berbentuk bujur sangkar (persegi) yang dikelilingi tembok berukuran 74 x 74 meter yang terbuat dari batu putih dengan tinggi tembok ± 80 cm.
Di luar arealnya terdapat pula tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer yang mengelilingi kompleks ini sampai ke pinggir sungai Kampar Kanan. Di dalam kompleks ini terdapat bangunan Candi Tua, Candi Bungsu, Mahligai Stupa serta Palangka. Di luar kompleks ini terdapat pula bangunan-bangunan (bekas) yang terbuat dari batu bata, yang belum dapat dipastikan jenis bangunannya.
Kompleks Candi Muara Takus, merupakan satu-satunya peninggalan sejarah yang berbentuk candi di Riau. Candi yang bersifat Buddhis ini merupakan bukti bahwa agama Buddha pernah berkembang di kawasan ini.
Candi Muara Takus merupakan salah satu bangunan suci agama Budha yang ada di Riau. Ciri yang menunjukkan bangunan suci tersebut merupakan bangunan agama Budha adalah stupa. Bentuk stupa sendiri berasal dari seni India awal, hampir merupakan anak bukit buatan yang berbentuk setengah lingkaran tertutup dengan bata atau timbunan dan diberi puncak meru.
Stupa adalah ciri khas bangunan suci agama Budha dan berubah-ubah bentuk dan fungsinya dalam sejarahnya di India dan di dunia Budhisme lainnya. Berdasarkan fungsinya stupa dapat dibedakan menjadi tiga. Yakni stupa yang merupakan bagian dari sesuatu bangunan, stupa yang berdiri sendiri atau berkelompok tapi masing-masing sebagai bangunan lengkap dan stupa yang menjadi pelengkap kelompok selaku candi perwara.
Berdasarkan fungsi di atas dapat disimpulkan bahwa bangunan di kompleks Candi Muara Takus menduduki fungsi yang kedua, yaitu stupa yang berdiri sendiri atau berkelompok tapi masing-masing sebagai bangunan lengkap. (NWR)

Bentangan Pesona Alam di Negeri Seribu Parit

Nuansawisatariau***

Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) disebut juga negeri “Seribu Parit”. Julukan ini tepat untuk menggambarkan keadaan alamnya yang didominasi kawasan rawa bertanah gambut serta parit-parit kecil, memetak lahan perkebunan kelapa yang merupakan tanaman rakyat setempat.
Masyarakat umumnya dari suku Melayu namun di daerah ini juga terdapat pendatang dan etnis Banjar dan Bugis yang kemudian bermukim dan secara turun temurun melahirkan bentuk budaya campuran Meiayu Riau, Banjar dan Bugis.
Daerah Inhil yang berbatasan langsung dengan Batam, Kepulauan Riau ini memiliki porensi wisata. Di antaranya Bukit Berbunga di sebelah Selatan Desa Batu Ampar, Kecamatan Keritang, yang dapat ditempuh dengan jalan setapak, melintasi dua buah sungai kecil.
Bukit dengan ketinggian sekitar 150 meter ini di puncaknya terdapat dua hamparan pasir yang disebut Gelanggang Muda dan Gelanggang Tua yang sering digunakan untuk tempat sabung ayam. Di sekitar bukit pada musim tertentu dihiasi dengan bunga Menik berwarna putih yang hanya terdapat di sekiiar bukit berbunga.
Obyek wisata alamnya adalah Air Terjun Tembulun Rusa di sebelah Utara Desa Batu Ampar, Aliran dari air terjun ini sejauh 2,5 km. Selain itu agrowisata juga dikembangkan dengan adanya perkebunan kelapa hybrida. perkebunan nenas di Pulau Burung, Kecamatan Kareman dimana hasil perkebunan ini telah diolah menjadi produk makanan seperti santan kelapa, tepung kelapa, air kelapa, nenas kaleng dan sebagainya.
Wisata ziarah terletak di Parit Hidayat Kecamatan Kuala Indragiri yaitu makam Syech Abdurrahman Sidik yang meninggal pada 10 Maret 1939. Makam ini setiap hari banyak dikunjungi orang yang berziarah baik dari dalam maupun luar negeri. Di samping makarn juga berdiri masjid Al Hidayah yang didirikan pada abad ke-19.
Atraksi wisata yang unik di daerah ini adalah lomba sampan leper dan manongkah. Kegiatan ini bermula karena mendangkalnya sungai Batang Tuaka yang semula bisa dilayari kapal-kapal. Manongkah atau kegiatan ski di atas lumpur adalah suatu kegiatan suku Duanu dengan menggunakan papan untuk mencari kerang di atas pantai lumpur yang akhirnya tiap tahun diperlombakan.
Kegiatan lainnya yang menarik di Pekan Arba, Kecamatan Tembilahan ini adalah pacu jalur mini, lomba menangkap itik di atas lumpur, meniti batang pinang, lomba layang-layang, gasing dan kesenian tradisional lainnya. (NWR)

Alam Natuna dan "The Lost World"

Nuansawisatariau**
Apakah Anda masih ingat dengan film The Lost World yang sempat populer beberapa waktu yang lalu? Film yang dibintangi aktor Sean Connery ini bercerita tentang sisi dunia yang hilang dan tidak terjamah dengan sejumlah potensi alamnya yang indah.

Pulau Natuna mengingatkan kita akan film tersebut. Bila Anda memiliki jiwa petualang, pasti akan tertantang dan terpuaskan untuk menjelajahi pulau ini.

Kepulauan Natuna merupakan bagian paling ujung utara Indonesia. Pulau Bunguran, Jemaja, dan Serasan merupakan tiga pulau terbesar di gugusan kepulauan ini. Kepulauan Natuna merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Kepulauan Riau, dengan ibu kota Ranai di Pulau Bunguran, sebagai ibu kota kabupaten.

Natuna dikelilingi laut dalam. Di ujung utara berbatasan langsung dengan perairan Vietnam, Kamboja, Malaysia, dan Singapura. Di perairan sekitar Natuna terdapat karang tak terduga yang tersebar di laut lepas. Tidak heran bila dulu banyak warga Vietnam dan Singapura yang terdampar di pulau Natuna ini.

Dengan posisi dikelilingi laut luas, Natuna menjadi terpencil, serta minim fasilitas sosial dan fasilitas umum. Lautan luas seharusnya membuat Natuna menjadi penghasil laut utama. Namun, letak Natuna terlalu jauh sehingga membuat nelayan tidak mampu memasarkan ikan tangkapannya. Sementara itu, fasilitas ruang pendingin untuk mengawetkan ikan juga minim. Kekayaan laut Natuna diperkirakan dapat menghasilkan lebih dari satu juta ton ikan per tahun. Namun, saat ini baru tiga puluh enam persen saja yang termanfaatkan.

Minimnya pemanfaatan potensi laut juga karena pengaruh musim yang hanya ramah selama enam bulan saja. Selebihnya, saat angin utara datang, laut di sekitar Natuna menjadi ganas dan para nelayan memilih berkebun sebagai lahan menyambung hidup.

Gugusan Kepulauan Natuna juga memiliki pemandangan yang indah, dengan panorama pantai yang masih terjaga keasriannya. Natuna demikian elok dan memiliki banyak potensi.

Pengunjung dapat menemukan wisata pantai, seperti Pantai Tanjung, Pantai Sebagul, Pantai Teluk Selahang, Pantai Setengar, dan sebagainya. Sejumlah lokasi bahkan menjadi tempat favorit bagi penggemar snorkling, pengamat habitat penyu, dan pecinta wisata bawah air.

Pengunjung juga dapat mengunjungi Pulau Senoa dengan menggunakan pompong dan perjalanan ditempuh sekitar 30 menit. Bila dilihat dari fisiknya, bentuk Pulau Senoa menyerupai ibu hamil yang sedang berbaring di atas laut. Karena itu, Pulau ini kerap disebut dengan Pulau Ibu Hamil oleh penduduk setempat. Di Pulau Senoa, pengunjung akan menemukan penyu yang berkeliaran dengan bebas di pinggir pantai. Di Pulau ini juga terdapat sarang burung walet di sejumlah gua.

Selain itu, di Natuna juga ada obyek wisata gua dan batu-batuan seperti gua Batu Sindu, Batu Kapal, Alive Stone Park, dan sebagainya. Natuna memiliki sejumlah batu-batu berukuran besar yang tersebar di seluruh pulau. Kini, oleh pemerintah setempat, batu-batu tersebut dilindungi dan dijadikan obyek wisata.

Bentuk batu-batuan ini juga unik, seperti Batu Kapal berupa dua batu besar yang berjajar. Bentuknya menyerupai kapal besar yang terdampat di tepi pantai. Adapun Alive Stone Park berupa batu yang berdiri di atas serakan batu lainnya. Bentuknya menyerupai elips, dan mirip dengan batu yang ditemukan di Afrika.

Di Natuna, pengunjung juga dapat menemui salah satu spesies kera langka yang biasa disebut dengan nama `kekah`. Kekah hanya hidup dan berkembang di Bunguran seperti di kawasan Gunung Sintu (Pian Tengah, Sepang, Seberang), gunung Ranai, dan Gunung Ceruk.

Bentuk kekah sangat unik, tubuhnya diselimuti oleh bulu-bulu hitam tebal yang diselingi dengan warna putih pada bagian dada hingga kelihatan seperti mengenakan rompi putih dan pada bagian wajah. Mata kekah dikelilingi kulit berwarna putih dan abu-abu. Mereka terlihat seperti mengenakan kacamata.

Seperti jenis-jenis kera lainnya, Kekah yang pemakan buah-buahan, dedaunan, dan umbi-umbian ini juga hidup berkelompok dan agak sulit didekati karena sifatnya yang sedikit pemalu dan takut. Namun, bila beruntung, Anda dapat menemukannya di jalan raya dalam perjalanan menuju pelabuhan Selat Lampa, Kecamatan Pulau Tiga, Natuna.

Meski terpencil dan minim fasilitas, Natuna sebenarnya bukanlah kabupaten yang miskin. Di sekitar bagian utara Natuna, terpendam ladang gas d-alpha, dengan total cadangan 222 triliun cubic feet, dan gas hidrokarbon sebesar 46 triliun cubic feet. Hal ini menjadikan Natuna sebagai salah satu sumber cadangan gas terbesar di Asia.

Untuk mencapai Natuna dapat menggunakan pesawat kecil dengan kapasitas sekitar 45 orang dari Bandara Hang Nadim, Batu Besar, Batam, Kepulauan Riau; atau dari Bandara Kijang, Tanjung Pinang. Perjalanan dengan pesawat memakan waktu selama kurang lebih 1 jam 30 menit.

Atau dapat juga menggunakan jalur pelayaran dengan kapal Pelni dari Pelabuhan Kijang, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Kapal ini akan kembali lagi ke Natuna satu minggu kemudian. Perjalanan dengan kapal memakan waktu sekitar 12 jam.

Untuk penggemar wisata kuliner, di Natuna bisa dicicipi makanan seafood, seperti sup kepala ikan yang bisa diperoleh di rumah makan di jalan H R Subrantas Ranai Darat, Natuna. Pengunjung juga bisa mendapatkan madu asli Natuna yang dijual di toko dan warung-warung di Ranai Natuna.

Menjelajahi Natuna cukup menantang dan perjalanan panjang berganti transportasi menuju Natuna akhirnya akan terbayar dengan keindahan alamnya. (NWR)

Minggu, 08 Agustus 2010

Mereka Tetap Optimis di Tengah Pantai Solop Masa Kini

Nuansa Wisata Riau***

Siang itu, Daswin terlihat sibuk bekerja di gubuk terapung yang tak jauh dari dermana pintu masuk ke objek wisata Pantai Solop. Pria berusia sekitar 40 tahun ini dengan telatennya, terus menaburi lumpur ke setiap goni yang berisi siput laut. Tujuannya agar siput yang dibelinya dari nelayan di sekitar Pulau Cawan tetap hidup hingga akhirnya dijual ke pialang siput di Singapura.

Itulah salah satu sisi kehidupan masyarakat di Pulau Cawan, khususnya di sekitar objek wisata Pantai Solop yang berada di Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau. Dengan santainya, satu demi satu, goni berisi siput dibukanya dan kemudian diikatnya kembali setelah ditaburi lumpur laut.Kehidupan masyarakat di sana cukup memperihatinkan. Selain bermata pencaharian sebagai nelayan tradisisional, ada juga sejumlah warganya yang menekuni pekerjaan sebagai pembakar kayu bakau untuk memproduksi arang.

Bila tahun-tahun sebelumnya, Pantai Solop sering dikunjungi pejabat, khususnya pada masa Rusli Zainal menjabat Bupati Inhil, kini sudah jarang. Bahkan kini, Bupati Inhil, Indra Mukhlis Adnan sendiri tak pernah mengunjungi objek wisata unggulan Kabupaten Inhil tersebut. Sehingga wajar saja, masyarakat di sana merasa kesal terhadap bupati yang kini kembali dipercaya menjabat Bupati Inhil untuk kali keduanya.

Daswin, misalnya. Raut wajahnya selalu berkerut ketika ditanya seputar perkembangan objek wisata “nan mempesona” (menurut syair lagu pantai solop yang dinyanyikan Rusli Zainal semasa menjabat Bupati Inhil yang kini Gubernur Riau). Dengan wajah memelas, dia pun agak “ogah” bercerita tentang kampungnya itu.

“Beginilah Pantai Solop sekarang. Tak terurus lagi. Yang datang berwisata ke sini sudah jarang. Kalau pun ada, itu pun pada hari-hari besar, seperti hari raya. Si Janggut (Indra Mukhlis Adnan) sendiri tak pernah ke sini sejak dia menjabat. Makanya, beginilah jadinya kampung kami ini. Mereka tak memperhatikannya lagi,” kata Daswin dengan wajah memelasnya sambil menaburi lumpur ke karung berisi siput.

Memang, objek wisata yang memiliki pasir putih “aneh” karena bercampur dengan pecahan kulit siput, sepertinya sudah ditinggalkan pemerintah setempat. Ya, ditinggalkan secara perlahan. Ini tentunya menurut pengakuan warga di sana.

“Kalau dulu, waktu Pak Rusli Zainal menjabat bupati, Pantai Solop ini selalu banyak dikunjungi orang. Karena selain menikmati keindahan alam, di sini juga sering dilakukan kegiatan-kegiatan hiburan. Tapi kini sudah jarang. Yang berkunjung ke sini sudah jarang,” ujar Mardi, warga Pantai Solop lainnya.

Meskipun Pulau Cawan dengan Pantai Solopnya tak diperhatikan lagi, tapi masyarakat di sana tetap optimis menatap hidup. Mereka tetap tekun dan rukun menjalani hidup. Seolah tak ada masalah, mereka tetap beraktivitas mencari nafkah demi masa depan anak-cucunya. Dengan satu harapan, semoga generasi yang tinggal di Pantai Solop tetap berkeseinambungan.

“Ya, beginilah. Kita harus bekerja dan terus bekerja untuk mencari uang. Mungkin sudah beginilah nasib Pantai Solop. Kita hanya bisa berharap, suatu saat nanti, daerah kami ini kembali diperhatikan pemimpin Inhil yang lain,” urai Daswin dengan nada kesalnya.

Sanking kesalnya, pria berbadan tegap dan sedikit gemuk ini, seolah berusaha menepis untuk tidak bercerita tentang ketenaran Pantai Solop dulu. Makanya, Dimpuan Wisata pun terpaksa mengalihkan pembicaraan seputar kegiatannya yakni sebagai pebisnis jual beli siput laut.

Menurutnya, saat itu, harga siput laut perkilonya dibeli dari nelayan seharga Rp 3.000. Kemudian, kembali dijual ke pialang atau tokey di Singapura seharga Rp 5.000 perkilogramnya. Namun, sebelum menjualnya ke Singapura, Daswin harus terlebih dahulu mengumpulkannya di gudang terapung miliknya selama beberapa hari. Setelah cukup banyak, baru dijual ke Singapura.

“Sebenarnya, untung yang kita peroleh tak sebanding dengan untung yang didapat orang Singapura itu. Bayangkan saja, untuk satu porsinya (sekitar setengah kilogram), mereka jual seharga Rp 15. 000. Kan, untung mereka jauh lebih banyak. Tapi biarlah, mereka itu lebih maju, pitar dan kaya-kaya,” kenangnya.

Walaupun dijual murah, Daswin dan tentunya para nelayan lainnya tetap berjiwa besar. Biarpun kehidupannya tetap pas-pasan, mereka tetap hidup dalam kedamaian. Seperti damainya alam Pantai Solop yang dihuni sekitar 30 kepala keluarga itu.

Anak mereka terus diupayakan tetap bisa belajar di bangku sekolah. Tentunya, semua itu demi masa depan daerahnya, Pulau Cawan dengan Pantai Solopnya. Bahkan, pemberian pendidikan agama kepada anak-anak (generasi muda), juga tak luput dari perhatian para orang tua di sekitar Pantai Solop.

“Di sini, ada sekolah dasar. Namun, sekolah untuk pendidikan agama (madrasah), belum ada. Makanya, anak-anak pun belajar mengaji melalui orang tuanya di rumahnya masing-masing. Kalau tidak, anak-anak belajar di rumah tetangga secara bersama-sama,” kata Mardi.Itulah secuil sisi kehidupan masyarakat di Pantai Solop, Pulau Cawan.

Banyak kenangan dan kesan yang dipetik ketika Dimpuan Wisata mengunjungi objek wisata tersebut beberapa waktu lalu. Termasuk ketika merasakan keramahan warganya, baik yang masih tinggal di Pantai Solop maupun di Desa Pulau Cawan yang tak jauh dari Pantai Solop.

Desa Pulau Cawan berpenghuni sekitar 70 kepala keluarga ini tak begitu jauh dari Pantai Solop. Di desa inilah pusat perekonomian warga. Di sana terdapat sejumlah pedagang yang menjual keperluan pangan, sandang dan lainnya. Semua rumah warga yang terbuat dari papan itu berada di atas air laut.Mereka sebelumnya tinggal di sekitar bibir Pantai Solop. Tapi karena pemerintah pada masa kepemerintahan Rusli Zainal hendak mengembangkan objek wisata Pantai Solop, lantas, warga yang rumahnya berada di batas wilayah pengembangan terpaksa dipindahkan ke Desa Pulau Cawan.

Tentunya, mereka pun bersedia pindah demi kemajuan daerahnya.Namun, impian mereka itu pun akhirnya sirna manakala pemerintah setempat saat ini tak lagi peduli dengan Pantai Solop. Ini dilihat dari jarangnya pejabat pemerintah yang mengunjungi daerah tersebut. Bahkan, infrastruktur di objek wisata itu pun sudah mulai rusak karena tak terawat.

Objek wisata ini pun layaknya tak pantas lagi untuk dikunjungi. Sangat memprihatinkan.Padahal, kalau pemerintah serius untuk mengembangkannya, Pantai Solop dengan pohon bakaunya yang unik, punya potensi yang tak ternilai. Khususnya untuk dikembangkan sebagai objek wisata bahari di kabupaten Inhil. (NWR)

Lihat Foto (3) dan (4)

Kamis, 05 Agustus 2010

Cagar Biosfer GSK-BB, Objek Wisata Warisan Dunia yang Membentang di Bumi Riau

Pekanbaru***

Negeri “Bumi Lancang Kuning” sepertinya sudah tak asing lagi bagi kedua negara tetangga Indonesia. Yakni Singapura dan Malaysia. Tentunya, Provinsi Riau terkenal karena dikategorikan sebagai daerah “pengekspor” asap ke kedua negara tersebut.

Memang tak bisa dipungkiri. Hampir setiap tahun, di daerah yang kaya akan sumber daya alam ini kerab terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Tentunya, hasil produksinya yaitu asap ini pun sangat merisaukan semua pihak. Tak terkecuali pemerintah negeri Malaysia dan Singapura karena bila angin bertiup ke arah sana, tentu kedua negara tersebut pun “diserang” kabut asap yang berasal dari Riau. Akibatnya, kedua negara itu (khususnya Singapura) acapkali memprotes pemerintah Riau (Indonesia).

Tapi, mereka (Singapura dan Malaysia) juga harus fair. Jangan hanya memprotes saja. Sebab, negeri “Bumi Lancang Kuning” juga punya peranan penting bagi kelangsungan bumi, termasuk kedua negara tersebut. Apa itu ?. Ya, karena di negeri ini masih terdapat cagar biosfer Giam Siak Kecil dan Bukit Batu (GSK-BB) yang tentunya merupakan warisan dunia.

Tentunya, keberadaan cagar biosfer yang natabene juga merupakan salah satu objek wisata alam ini memiliki sumbangsih yang tiada ternilai. Khususnya dalam hal pelestarian lingkungan. Dimana, dengan ditetapkannya Suaka Alam GSK-BB yang luasnya diperkirakan 178.000 hektar menjadi cagar biosfer, hal ini telah menjadi salah satu perhatian dunia terhadap Riau.

Bahkan, bukan tidak mungkin, dengan dilestarikannya cagar biosfer tersebut, Provinsi Riau akan semakin dikenal dunia luar. Dikenal bukan karena pengekspor asap, tapi karena adanya objek wisata alam Cagar Bisfer GSK-BB. Jadi, objek wisata ini bisa menjadi pendongkrak objek-objek wisata lainnya yang terdapat di provinsi Riau.

Sebagaimana diketahui, objek wisata Cagar Biosfer GSK-BB ditetapkan 26 Mei 2008 lalu pada sidang UNESCO di Jeju, Korea Selatan. Objek wisata alam Cagar Biosfer GSK-BB merupakan satu dari 22 lokasi yang diusulkan 17 negara yang diterima menjadi cagar biosfer.

Ditetapkannya cagar biosfer tersebut, tentu pula tidak terlepas dari sumbangsih perusahaan Sinar Mas Forestry (Asian Pulp and Paper) yang menyerahkan 72.255 hektar lahan konsesi hutan produksinya untuk konservasi permanen.

Berdasarkan hasil studi alias penelitian LIPI, di kawasan Cagar Biosfer tersebut banyak terdapat flora dan fauna yang begitu beragam. Konon, di sana terdapat 150 jenis burung, 10 jenis hewan mamalia termasuk yang dilindungi. Seperti gajah dan harimau. Kemudian juga terdapat delapan jenis binatang reptil, serta 52 spesies tumbuhan langka dan dilindungi.

Bayangkan, bila Cagar Biosfer GSK-BB terus dilestarikan dan kemudian dipromosikan sebagai salah objek wisata alam unggulan Riau yang mendunia, tentunya akan berdampak positif bagi masyarakat dan pemerintah di negeri Bumi Lancang Kuning. Ini tak sekedar khayalan. Sebab, masyarakat dunia sekarang dan mendatang, akan semakin menginginkan objek-objek wisata bernuansa alam untuk dijadikan tempat berlibur.

Nah, mengingat prediksi tersebut, tentunya Riau memiliki modal untuk menyambut kedatangan para wisatawan (wisatawan Nusantara dan Mancanegara) yang berkunjung ke negeri kaya minyak ini. Sekarang, bagaimana respon pemerintah dan masyarakat, serta berbagai pihak lainnya. Tentunya, kesepakatan untuk melestarikan Cagar Biosfer GSK-BB menjadi kata kunci.

Khusus untuk pihak perusahaan Sinar Mas Forestry, kata “salut” wajar ditujukan kepada mereka. Sebab, perusahaan ini memiliki peran penting sehingga objek wisata tersebut diakui dunia. Dan menurut pihak perusahaan tersebut, zona penyangga cagar biosfer itu seluas 222.425 hektar yang sebagian besar (sekitar 88 persen) merupakan kawasan hutan tanaman industri Grup Sinar Mas.

Menurut mereka, hutan penyangga merupakan kunci untuk melindungi zona inti. Di sisi terluar terdapat area transisi 304.123 hektar, kerja sama di bidang perkebunan, pertanian, dan permukiman yang melibatkan masyarakat. Jadi, Cagar Biosfer GSK-BB adalah sebuah “warisan” pusaka alam dunia di Bumi Lancang Kuning yang kelak bisa menjadi objek wisata andalan Riau. (NWR)

Lihat Foto (1) dan (2)



Selasa, 13 Juli 2010

Jelang Event TBN 2010, TB Riau Mulai Berbenah Diri

Pekanbaru***Nuansa Wisata Riau
Juli 2010 ini, event Temu Budaya Nasional (TBN) akan dilangsungkan di Taman Budaya (TB) Riau, Jalan Sudirman, Pekanbaru. Terkait hal itu, pihak Taman Budaya Riau pun telah mulai berbenah diri. Termasuk menata dan membersihkan areal Taman Budaya Riau.

Menurut Kepala Taman Budaya Riau, OK Pulsiamitra SE, selain mempersiapkan persiapan-persiapan teknis terkait helat akbar di kalangan Taman Budaya se-Indonesia itu, pihaknya juga sibuk untuk melaqkukan pembenahan-pembenahan di sekitar tempat berlangsungnya kegiatan tersebut.

Salah satunya yakni membersihkan pekarangan dan juga memperbaiki kerusakan-kerusakan ringan yang terdapat di gedung olahseni. Selain itu, juga melakukan pengecatan di sejumlah bangunan.

“Kita juga akan membersihkan rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar gedung olah seni ini. Rumputnya dicabut agar tidak tumbuh lagi. Sebelumnya rumput liar ini sudah kita potong beberapa bulan lalu, tapi tumbuh lagi. Jadi, caranya agar tak tumbuh lagi, rumput ini dicabut agar akarnya ikut terangkat,” ujar OK Pulsiamitra.

Menurutnya, untuk kesuksesan acara Temu Budaya Nasional 2010 yang akan dilangsungkan di Taman Budaya Riau, pihaknya mengerahkan seluruh pegawai yang ada di Taman Budaya Riau. Tak terkecuali para pekerja lepas harian yang selama ini dipekerjakan di Taman Budaya Riau. “Pokoknya, kita gotong royong agar kegiatan temu Budaya Nasional ini berlangsung sukses,” harapnya. (NWR)