Objek Rekreasi “Soeman HS”
Gudang Ilmu di Tengah Kota Bertuah
Gambaran Perpustakaan Daerah (Perpusda) di banyak tempat mungkin lebih banyak menampilkan kesan kusam dengan debu yang menyelimuti tumpukan buku.
Kesan sumpek dengan buku yang bertumpuk tidak teratur, berjubel di lorong, dan di meja bacaan. Gedungnya selalu menampilkan bangunan tua yang tidak terawat dengan cat mengelupas di sekujur dinding.
Namun gambaran seperti itu tidak terjadi di Pustaka Soeman HS Pekanbaru, Riau. Gedung bertingkat lima ini banyak memiliki keunikan. Baik dari konstruksi maupun fasilitas yang tidak dimiliki gedung buku lainnya.
Cirinya khas bangunan yang telah diresmikan pada 2008 itu, memiliki banyak tiang-tiang raksasa sebagai penopang bangunan unik tak ubahnya sebagai meja tempat untuk membaca Alquran (Reghal).
Selain memiliki keunikan gedung, lokasi pustaka yang menelan dana Rp158 miliar itu juga sangat strategis, yakni berada di jantung Ibu kota Riau tepatnya di Jalan Sudirman yang diapit oleh gedung Gubernur Riau dan Bank Indonesia (BI) Pekanbaru.
Bangunan yang dindingnya terbuat dari kaca transparan itu memudahkan pengunjung melihat keindahan Kota Bertuah itu. Saat memasuki gedung tersebut, suasana sejuk mulai terasa di pustaka itu.
Jauh dari kesan kumuh atau kotor dibandingkan perpustaan lain umumnya. Di sana semua buka terlihat rapi dan semua begitu nyaman. Jika haus, pengelola perpustakaan menyediakan kedai kopi Kimteng.
Ini membuat pengunjung perpustakaan tidak merasa bosan. Sehingga mereka nyaman saat berada di dalam perpustaan yang memiliki gedung lapang ini.
Selain itu, di lantai dasar perpustakaan itu pengunjung dimanjakan dengan Media Center dengan fasilitas 10 unit komputer yang dapat digunakan untuk mengakses internet.
Setiap pengunjung bebas memakai komputer, namun dibatasi hanya satu jam. Peraturan ini dilakukan agar para pengunjung dapat bergantian menggunakan fasilitas komputer tersebut.
Bagi pengunjung yang merasa kesulitan mencari buku, mereka bisa bertanya kepada petugas imformasi yang siap membantu.
Penulis pun melangkah ke lantai I dan lantai II. Di lantai ini pengunjung disajikan sejumlah buku yang berhubungan dengan mata pelajaran dan mata kuliah. Buku-buku tesis dan skripsi tersusun rapi di dua lantai ini.
Sementara di lantai III sengaja ditempatkan buku mengenai sejarah dan kebudayaan, serta pengetahuan umum. Di lantai ini, pengelola juga dilengkapi dengan ruang khusus diskusi.
Ruangan yang berisi meja bundar dan sejumlah tempat duduk, serta kaca transparan ini mampu menampung pengunjung antara 10 sampai 15 orang.
“Semua orang bebas menggunakannya," kata petugas di lantai III yang ditemui penulis. Sedangkan lantai IV dan V belum bisa dibuka untuk umum. Di lantai ini sengaja diperuntukkan pegawai yang bertugas.
Asnul (39), salah seorang pengunjung, mengamini gambaran nyaman gedung tersebut. Meski gemar “melahap” berbagai buku bacaan, ayah tiga anak ini awalnya tidak tertarik berkunjung ke Perpusda Soeman HS.
Awalnya dia mengaku enggan untuk meminjam buku di perpustakaan. Pasalnya dalam benak pria ini, kesan kotor dan kumuh sudah terpatri di dalamnya.
Hingga suatu hari, seorang kerabatnya bercerita tentang anaknya yang selalu merengek minta diantar ke perpustakaan Soeman HS. Bahkan, anaknya kerabatnya betah berjam-jam berada di sana hingga harus dibujuk rayu agar mau diajak pulang.
Heran dengan kisah tersebut, dia pun mencari waktu menyempatkan diri mampir ke perpustakaan Soeman HS untuk membunuh rasa penasarannya.
"Walau saya sudah lama di Pekanbaru, saya baru kali ini mengunjungi pustaka. Karena selama ini kesan pustakakan tidak rapi dan membosankan, tapi ternyata terbalik suasana di sini menyenangkan. Anak saya bawa di perpustakaan anak, sedangkan saya bisa santai minum kopi," kelakarnya sambil menghisap sebatang rokok kretek kesuakanya.
“Saya sebenarnya kurang tertarik baca buku, tapi karena di sini suasa enak, saya main internet saja. Apalagi di sini dilengkapi Wi-Fi, saya sering kemari dan memang betah," sebut Rahmad Kurniawan karyawan sebuah perusahaan elektronik yang ditemui terpisah. nwr-oz****(lihat fotonya di bawah)
Senin, 18 Juli 2011
Minggu, 17 April 2011
Mengintip Penangkaran Kupu-kupu di Rohul
Ada objek wisata yang cukup menarik di Rokan Hulu (Rohul). Bukan objek wisata alam atau sejarah loh. Tapi objek wisata yang sengaja dirancang untuk dunia pendidikan atau penilitian.
Objek yang dimaksud itu adalah pusat penagkaran kupu-kupu yang diklaim merupakan satu-satunya penangkaran kupu-kupu di Sumatra. Penangkaran ini berada di objek wisata air panas bumi Hapanasan, Desa Kaiti, Kecamatan Rambah.
Tentunya, dengan adanya penangkaran tersebut, objek wisata ini kian menambah potensi wisata unggulan di bumi seribu suluk (sebutan lain Rohul). Berjarak sekitar sembilan kilometer dari taman kota Pasir Pengaraian, objek wisata diyakini akan mampu meningkat kunjungan wisata ke daerah tersebut.
Di Rohul sendiri, cukup banyak objek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Di antaranya kawasan Gunung Bonsu dengan sejumlah sumber air panasnya, Danau Sipogas, air terjun Aek Matua, Bukit Suligi, dan beberapa objek wisata alam lainnya.
Sedangkan untuk wisata sejarah, di daerah itu juga masih terpelihara beberapa peninggalan sejarah. Peninggalan sejarah perjuangan pahlawan nasional, Tuanku Tambusai yakni berupa Benteng Tujuh Lapis di daerah Dalu-Dalu. Begitu juga dengan makam Raja-Raja Rambah di Desa Kumu.
Khusus objek wisata penangkaran kupu-kupu, menurut peneliti kupu-kupu, Yusri Syam, usaha penelitian lingkungan bidang kupu-kupu itu telah dimulai sejak 2003 hingga sekarang. Penelitian tersebut kerjasama pemerintah Kabupaten Rokan Hulu dan Provinsi Riaumelalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Riau.
Sebagai bukti kerjasama, saat media ini berkunjung ke lokasi penangkaran, saat itu sedang dibangun Gedung Pusat Informasi Kupu-kupu Sumatera. Bangunannya berukuran 8 x12 meter persis di samping museum kupu-kupu alias pusat informasi kupu-kupu.
Pusat Informasi Kupu-kupu itu sendiri telah dibuka untuk umum. Di dalamnya terdapat beragam spesies kupu-kupu. Tentunya, dengan adanya pusat informasi dan penangkaran kupu-kupu itu, setidaknya Pemerintah Rohul cukup serius dalam mengembangkan objek wisatanya sekaligus melestarikan alam dan lingkungan. Di gedung ini juga terdapat data dinding dalam bentuk visual penelitian mulai sejak tahun 2003.
Pusat penelitian ini nantinya berfungsi untuk memberikan informasi kepada masyarakat terutama, anak sekolah mengenai keberadaan kupu-kupu yang ada di Sumatera khususnya kawasan Rokan.
Penangkaran yang ada nantinya akan berguna sebagai restocking dan penyelamatan spesies kupu-kupu yang dilindungi ataupun yang terancam punah. Jika mengunjungi pusat informasi itu, pengunjung akan dapat melihat 150 spesies kupu-kupu yang ada di Rokan Hulu.
Dari 150 itu, 50 spesies di antaranya sudah diteliti ontogeni-nya. Mulai mulai dari telur hingga menjadi kupu-kupu.
Pokoknya, objek wisata itu cukup lengkap. Selain bisa meneliti spesies kupu-kupu, pengunjung juda dapat menikmati hangatnya air di pemandian air panas. Di tempat itu, terdapat dua sumber mata air panas bumi yang suhunya berkisar antara 50-60 derajat Celcius.
Bahkan, taman pendukung objek wisata itu pun terus dikemas dalam rangka menunjang kunjungan wisatawan ke tempat tersebut. Bagi wisatawan yang membawa anak-anak, di sana juga tersedia wahana permainan anak-anak.
Bahkan, gazebo dan tempat perisitihatan pun yang disguhjan beberapa instansi pemerintah terkait juga mewarnai objek wisata tersebut. Untuk info lebih lanjut, kunjungi segera objek wisata milik Rohul itu.amien-NWR (lihat fotonya di bawah)
Objek yang dimaksud itu adalah pusat penagkaran kupu-kupu yang diklaim merupakan satu-satunya penangkaran kupu-kupu di Sumatra. Penangkaran ini berada di objek wisata air panas bumi Hapanasan, Desa Kaiti, Kecamatan Rambah.
Tentunya, dengan adanya penangkaran tersebut, objek wisata ini kian menambah potensi wisata unggulan di bumi seribu suluk (sebutan lain Rohul). Berjarak sekitar sembilan kilometer dari taman kota Pasir Pengaraian, objek wisata diyakini akan mampu meningkat kunjungan wisata ke daerah tersebut.
Di Rohul sendiri, cukup banyak objek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Di antaranya kawasan Gunung Bonsu dengan sejumlah sumber air panasnya, Danau Sipogas, air terjun Aek Matua, Bukit Suligi, dan beberapa objek wisata alam lainnya.
Sedangkan untuk wisata sejarah, di daerah itu juga masih terpelihara beberapa peninggalan sejarah. Peninggalan sejarah perjuangan pahlawan nasional, Tuanku Tambusai yakni berupa Benteng Tujuh Lapis di daerah Dalu-Dalu. Begitu juga dengan makam Raja-Raja Rambah di Desa Kumu.
Khusus objek wisata penangkaran kupu-kupu, menurut peneliti kupu-kupu, Yusri Syam, usaha penelitian lingkungan bidang kupu-kupu itu telah dimulai sejak 2003 hingga sekarang. Penelitian tersebut kerjasama pemerintah Kabupaten Rokan Hulu dan Provinsi Riaumelalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Riau.
Sebagai bukti kerjasama, saat media ini berkunjung ke lokasi penangkaran, saat itu sedang dibangun Gedung Pusat Informasi Kupu-kupu Sumatera. Bangunannya berukuran 8 x12 meter persis di samping museum kupu-kupu alias pusat informasi kupu-kupu.
Pusat Informasi Kupu-kupu itu sendiri telah dibuka untuk umum. Di dalamnya terdapat beragam spesies kupu-kupu. Tentunya, dengan adanya pusat informasi dan penangkaran kupu-kupu itu, setidaknya Pemerintah Rohul cukup serius dalam mengembangkan objek wisatanya sekaligus melestarikan alam dan lingkungan. Di gedung ini juga terdapat data dinding dalam bentuk visual penelitian mulai sejak tahun 2003.
Pusat penelitian ini nantinya berfungsi untuk memberikan informasi kepada masyarakat terutama, anak sekolah mengenai keberadaan kupu-kupu yang ada di Sumatera khususnya kawasan Rokan.
Penangkaran yang ada nantinya akan berguna sebagai restocking dan penyelamatan spesies kupu-kupu yang dilindungi ataupun yang terancam punah. Jika mengunjungi pusat informasi itu, pengunjung akan dapat melihat 150 spesies kupu-kupu yang ada di Rokan Hulu.
Dari 150 itu, 50 spesies di antaranya sudah diteliti ontogeni-nya. Mulai mulai dari telur hingga menjadi kupu-kupu.
Pokoknya, objek wisata itu cukup lengkap. Selain bisa meneliti spesies kupu-kupu, pengunjung juda dapat menikmati hangatnya air di pemandian air panas. Di tempat itu, terdapat dua sumber mata air panas bumi yang suhunya berkisar antara 50-60 derajat Celcius.
Bahkan, taman pendukung objek wisata itu pun terus dikemas dalam rangka menunjang kunjungan wisatawan ke tempat tersebut. Bagi wisatawan yang membawa anak-anak, di sana juga tersedia wahana permainan anak-anak.
Bahkan, gazebo dan tempat perisitihatan pun yang disguhjan beberapa instansi pemerintah terkait juga mewarnai objek wisata tersebut. Untuk info lebih lanjut, kunjungi segera objek wisata milik Rohul itu.amien-NWR (lihat fotonya di bawah)
Minggu, 06 Maret 2011
Rumah Kapitan Sebagai Bukti Sejarah Bagansiapiapi
Nuansa Wisata Riau***
Bangunan Rumah Kapitan di kota Bagan Siapiapi, Kabupaten Rokan Hilir adalah salah satu warisan budaya yang kini masih tersisa. Bangunan dengan arsitektur perpaduan gaya tradisional Tionghoa dan Melayu ini seharusnya perlu dirawat, dijaga dan dilestarikan.
Di Provinsi Riau sendiri, boleh dikatakan tidak ada lagi bangunan Rumah Kapitan. Jadi, Rumah Kapitan yang ada di kota Bagansiapiapi ini adalah satu-satunya. Rumah Kapitan milik Yeo Ming San ini telah musnah dibongkar beberapa bulan lalu.
Ini membuktikan tidak adanya kepedulian mayarakat dan pemerintah terhadap bangunan bersejarah tersebut. Padahal, bangunan iut merupakan salah satu objek wisata yang cukup mendapat perhatian bagi setiap wisatawan yang berkunjung ke “kota ikan” itu.
Buktinya, setiap ada kunjungan wisata ke kota itu, sang guide alias pramuwisata selalu “menggiring” tamunya itu melihat bangunan yang terletak di belakang kelenteng Ing Hok Kiong. Tapi kini, bangunan itu sudah tinggal kenangan.
Bangunan terbuat dari papan ini telah dirubuhkan dan dibongkar demi semata untuk memenuhi kepentingan ekonomi atau kepentingan modernisasi. Sedangkan bangunan Rumah Kapitan yang paling kuno dan tersisa satu-satunya milik ahli waris Ba Ching masih berdiri kokoh tetapi tidak terawat.
Konon, Rumah Kapitan ini masih dihuni oleh keturunan ahli waris Ba Ching. Bangunan yang terletak di pertengahan tiga jalan yakni jalan Sumatera, jalan Pahlawan, dan jalan Mawar itu hingga kini masih berdiri meskipun mulai rapuh dimakan usia. Dan wisatawan pun masih kerap berkunjung ke objek wisata yang jaraknya sekitar 25 meter dari belakang kelenteng Ing Hok Kiong. Hanya berjalan sebentar di sebuah gang kecil, bangunan itu sudah bisa dilihat.
Bangunan Rumah Kapitan berusia hamper seabad yang ada di Bagansiapiapi ini memiliki sejarah penting. Khususnya menyangkut sistem kekuasaan Opsir (Kapitan ) Tionghoa semasa berkuasa di Bagan Siapiapi waktu silam.
Seperti diketahui, Kapitan Tionghoa merupakan sebutan yang diberi dan diciptakan oleh sistem Pemerintahan Kolonial Belanda dalam upaya mengendalikan dan mengatur komunitas masyarakat Tionghoa di daerah tersebut.
Jadi, Kapitan adalah pejabat yang diangkat Pemerintahan Kolonial Belanda masa itu. Biasanya, seorang Kapitan dipilih atas dasar ketokohan dan kekayaan serta punya pengaruh besar dalam masyarakat pedagang Tionghoa.
Tak heran, Kapitan Tionghoa pada umumnya adalah sosok yang sangat kaya di antara komunitas masyarakat Tionghoa. Kekayaan adalah bagian dari parameter penghargaan yang tinggi. Bahkan pengaruh ketokohannya pada komunitas masyarakat Tionghoa sangat dipercayai penuh.
Karena itu, seorang Kapitan memiliki peran penting dalam menjembatani kepentingan ekonomi, politik, dan sosial antara Pemerintah Kolonial Belanda dengan komunitas masyarakat Tionghoa di Bagansiapiapi saat itu.
Di awal abad XVII silam, telah ditemukan pemimpin Tionghoa di Batavia (sekarang Jakarta) menjadi Kapitan, Letnan dan Mayor adalah pejabat yang diangkat oleh Pemerintah Kolonial Belanda.
Kemudian di awal abad XIX, di Bagan Siapiapi sudah terbentuk salah satu pemimpin masyarakat Tionghoa yang diangkat menjadi Kapitan. Tentunya, dalam menjalankan kewenangan dan kekuasaannya, sang Kapitan ini diberi hak penuh untuk mendidirikan bangunan Rumah Kapitan. Bangunan itu berfungsi sebagai kantor operasional dalam menjalankan kekuasaan.
Layaknya system pemerintahan sekarang, fungsi umum Kapitan Tionghoa yakni membuat catatan daftar kelahiran (sekarang akte kelahiran), kematian, pernikahan, kedatangan atau migrasi mereka serta kegiatan kebudayaan atau tradisi komunitas masyarakat Tionghoa di daerah tersebut. amien-NWR (lihat fotonya di bawah)
Bangunan Rumah Kapitan di kota Bagan Siapiapi, Kabupaten Rokan Hilir adalah salah satu warisan budaya yang kini masih tersisa. Bangunan dengan arsitektur perpaduan gaya tradisional Tionghoa dan Melayu ini seharusnya perlu dirawat, dijaga dan dilestarikan.
Di Provinsi Riau sendiri, boleh dikatakan tidak ada lagi bangunan Rumah Kapitan. Jadi, Rumah Kapitan yang ada di kota Bagansiapiapi ini adalah satu-satunya. Rumah Kapitan milik Yeo Ming San ini telah musnah dibongkar beberapa bulan lalu.
Ini membuktikan tidak adanya kepedulian mayarakat dan pemerintah terhadap bangunan bersejarah tersebut. Padahal, bangunan iut merupakan salah satu objek wisata yang cukup mendapat perhatian bagi setiap wisatawan yang berkunjung ke “kota ikan” itu.
Buktinya, setiap ada kunjungan wisata ke kota itu, sang guide alias pramuwisata selalu “menggiring” tamunya itu melihat bangunan yang terletak di belakang kelenteng Ing Hok Kiong. Tapi kini, bangunan itu sudah tinggal kenangan.
Bangunan terbuat dari papan ini telah dirubuhkan dan dibongkar demi semata untuk memenuhi kepentingan ekonomi atau kepentingan modernisasi. Sedangkan bangunan Rumah Kapitan yang paling kuno dan tersisa satu-satunya milik ahli waris Ba Ching masih berdiri kokoh tetapi tidak terawat.
Konon, Rumah Kapitan ini masih dihuni oleh keturunan ahli waris Ba Ching. Bangunan yang terletak di pertengahan tiga jalan yakni jalan Sumatera, jalan Pahlawan, dan jalan Mawar itu hingga kini masih berdiri meskipun mulai rapuh dimakan usia. Dan wisatawan pun masih kerap berkunjung ke objek wisata yang jaraknya sekitar 25 meter dari belakang kelenteng Ing Hok Kiong. Hanya berjalan sebentar di sebuah gang kecil, bangunan itu sudah bisa dilihat.
Bangunan Rumah Kapitan berusia hamper seabad yang ada di Bagansiapiapi ini memiliki sejarah penting. Khususnya menyangkut sistem kekuasaan Opsir (Kapitan ) Tionghoa semasa berkuasa di Bagan Siapiapi waktu silam.
Seperti diketahui, Kapitan Tionghoa merupakan sebutan yang diberi dan diciptakan oleh sistem Pemerintahan Kolonial Belanda dalam upaya mengendalikan dan mengatur komunitas masyarakat Tionghoa di daerah tersebut.
Jadi, Kapitan adalah pejabat yang diangkat Pemerintahan Kolonial Belanda masa itu. Biasanya, seorang Kapitan dipilih atas dasar ketokohan dan kekayaan serta punya pengaruh besar dalam masyarakat pedagang Tionghoa.
Tak heran, Kapitan Tionghoa pada umumnya adalah sosok yang sangat kaya di antara komunitas masyarakat Tionghoa. Kekayaan adalah bagian dari parameter penghargaan yang tinggi. Bahkan pengaruh ketokohannya pada komunitas masyarakat Tionghoa sangat dipercayai penuh.
Karena itu, seorang Kapitan memiliki peran penting dalam menjembatani kepentingan ekonomi, politik, dan sosial antara Pemerintah Kolonial Belanda dengan komunitas masyarakat Tionghoa di Bagansiapiapi saat itu.
Di awal abad XVII silam, telah ditemukan pemimpin Tionghoa di Batavia (sekarang Jakarta) menjadi Kapitan, Letnan dan Mayor adalah pejabat yang diangkat oleh Pemerintah Kolonial Belanda.
Kemudian di awal abad XIX, di Bagan Siapiapi sudah terbentuk salah satu pemimpin masyarakat Tionghoa yang diangkat menjadi Kapitan. Tentunya, dalam menjalankan kewenangan dan kekuasaannya, sang Kapitan ini diberi hak penuh untuk mendidirikan bangunan Rumah Kapitan. Bangunan itu berfungsi sebagai kantor operasional dalam menjalankan kekuasaan.
Layaknya system pemerintahan sekarang, fungsi umum Kapitan Tionghoa yakni membuat catatan daftar kelahiran (sekarang akte kelahiran), kematian, pernikahan, kedatangan atau migrasi mereka serta kegiatan kebudayaan atau tradisi komunitas masyarakat Tionghoa di daerah tersebut. amien-NWR (lihat fotonya di bawah)
Kamis, 24 Februari 2011
Rokan Hulu dengan Kulinernya
Nuansa Wisata Riau***
Jika Anda berkunjung atau berwisata ke Kabupaten Rokan Hulu, jangan lupa mencicipi mencicipi beragam jenis kulinernya. Di "negeri seribu suluk" ini, ada beberapa masakan/makanan khas yang rasanya sudah tak asing lagi bagia sebagian orang.
Di antarahnya, campa cahang - asam kandih, campa cahang - krasak kincong, pendang ikan kawan, asampodeh taleh (asampodeh lalu), asampodeh lingkitang,asampodeh dagiang (daging), gulai lingkitang,gulai alo-alo, gulai jangek torong, gulai pucuk ubi tumbuk, gulai krasak labu cinu,gulai tunjang, paih, pokasam limbek, baka ikan kopiek, giliang kumangi , giliang rondang korambie, giliang paih, kokek asam durian,
giliang krasak, Sala toluo ayam, tumih daun gando, baka torong (aie asam torong) - aie lalu, baka torong (aie asam torong)- santan, kukuo montimun - aie, kukuo montimun - santan, sayuo ayie, joruk maman, anyang pakih,anyang ratuih, urap, sonop pisang, caco labu cino, jando pulangan, ulek-ulek, putila mandi, buah molako, sonop ompiang, Lalaju, bubuo lomak, bekang, lompuk durian, buah klopong, konji, nasi lomak, lopek pegu, lopeh buluh, lopek kutakuo, itak kopa, itak kopa panggang, tak kopa kukuih, buah inai, buah porio, tak talam, tobu kabong, aie podeh, klamai gegek, salam.dan lain sebaganya.
Nama-nama makanan dan minum ini dibeberapa tempat di Kabupaten Rokan Hulu juga bermacam-macam sesuai dengan dialeg daerah tersebut, menu-menu ini pada beberapa rumah makan juga disediakan dan silahkan Anda tanyakan, jika tersedia Anda beruntung sekali dapat mencicipinya
Sedangkan Gulai yang dikenal di daerah Rokan Hulu adalah :
Kokek Asam Durian, sejenis gulai santan kental yang dicampur asam durian (durian yang diasamkan) kemudian dimasak dengan ikan teri ditambah petai serta lebih lengkapnya di masukkan pucuk daun ubi.
Kemudian berbagai jenis masakan dengan khas ikan salai (ikan sungai yang diasap) yang lebih menarik lagi Lingkitang dan alo-alo (sejenis siput dan kerang sungai).
Sedangkan makanan kue-kue yang sangat tradisi dan langka adalah lopek totakuo (pulut yang dikukus didalam kantong semar)
Dan sesuai dengan kondisi geografisnya, ada makanan yang disebut anyang ratuih, yaitu makanan sayuran yang dibumbubuhi dari bermacam-macam dedaunan kayu hutan yang oleh masyarakat diyakini untuk obat.**NWR
Jika Anda berkunjung atau berwisata ke Kabupaten Rokan Hulu, jangan lupa mencicipi mencicipi beragam jenis kulinernya. Di "negeri seribu suluk" ini, ada beberapa masakan/makanan khas yang rasanya sudah tak asing lagi bagia sebagian orang.
Di antarahnya, campa cahang - asam kandih, campa cahang - krasak kincong, pendang ikan kawan, asampodeh taleh (asampodeh lalu), asampodeh lingkitang,asampodeh dagiang (daging), gulai lingkitang,gulai alo-alo, gulai jangek torong, gulai pucuk ubi tumbuk, gulai krasak labu cinu,gulai tunjang, paih, pokasam limbek, baka ikan kopiek, giliang kumangi , giliang rondang korambie, giliang paih, kokek asam durian,
giliang krasak, Sala toluo ayam, tumih daun gando, baka torong (aie asam torong) - aie lalu, baka torong (aie asam torong)- santan, kukuo montimun - aie, kukuo montimun - santan, sayuo ayie, joruk maman, anyang pakih,anyang ratuih, urap, sonop pisang, caco labu cino, jando pulangan, ulek-ulek, putila mandi, buah molako, sonop ompiang, Lalaju, bubuo lomak, bekang, lompuk durian, buah klopong, konji, nasi lomak, lopek pegu, lopeh buluh, lopek kutakuo, itak kopa, itak kopa panggang, tak kopa kukuih, buah inai, buah porio, tak talam, tobu kabong, aie podeh, klamai gegek, salam.dan lain sebaganya.
Nama-nama makanan dan minum ini dibeberapa tempat di Kabupaten Rokan Hulu juga bermacam-macam sesuai dengan dialeg daerah tersebut, menu-menu ini pada beberapa rumah makan juga disediakan dan silahkan Anda tanyakan, jika tersedia Anda beruntung sekali dapat mencicipinya
Sedangkan Gulai yang dikenal di daerah Rokan Hulu adalah :
Kokek Asam Durian, sejenis gulai santan kental yang dicampur asam durian (durian yang diasamkan) kemudian dimasak dengan ikan teri ditambah petai serta lebih lengkapnya di masukkan pucuk daun ubi.
Kemudian berbagai jenis masakan dengan khas ikan salai (ikan sungai yang diasap) yang lebih menarik lagi Lingkitang dan alo-alo (sejenis siput dan kerang sungai).
Sedangkan makanan kue-kue yang sangat tradisi dan langka adalah lopek totakuo (pulut yang dikukus didalam kantong semar)
Dan sesuai dengan kondisi geografisnya, ada makanan yang disebut anyang ratuih, yaitu makanan sayuran yang dibumbubuhi dari bermacam-macam dedaunan kayu hutan yang oleh masyarakat diyakini untuk obat.**NWR
Mengintip Sejarah Negeri 1000 Suluk
Nuansa Wisata Riau***
Tahu nggak Anda "Negeri Seribu Suluk". Bagi warga Provinsi Riau, mungkin sebagian sudah mengenalnya.
Negeri Seribu Suluk adalah sebuah daerah kabupaten hasil pemekaran kabupaten Kampar. kabupaten Rokan Hulu, itulah Negeri Seribu Suluk yang kita dimaksud.
Konon, julukan ini ditorehkan olah Thareqat Naqsabandi. Dasarnya menjuluki Kabupaten Rokan Hulu dengan sebutan itu karena dahulu di daerah ini sangat banyak surau suluk. SekarangSekarang ada dua hemah atau disebut dengan asal ajaran yang dibawa oleh mursyid dari dua orang Syekh.
Yakni dari Besilam Langkat Syekh Abdul Wahab Rokan. Beliau ini sangat besar pengaruh thareqatnya saat sekarang dan berpusat di Besilam Kabupaten Langkat Sumatera Utara.
Namun demikian Syekh Abdul Wahab Rokan adalah seorang putra Rokan yang lahir di Rantau Binuang Sakti Tahun 1811M dan wafat 1926M, setelah belajar Thareqat di Bukit Abi Qubis Mekah tahun 1286H ia menyebarkan ajaran tersebut di daerah Rokan dan sekitarnya.
Kemudian dari Kumpulan Sumatera Barat, yaitu Maulana Syekh Ibrahim Al Khalidi Kumpulan, lahir 1764 dan wafat 1914M, juga memberikan pengaruh thareqat di Rokan ini.
Ada 5 butir perkataan yang menjadi buah bibir ahli Sufi yaitu : Suluk, Tharekat, Saier, Their dan Rujuk.
Suluk adalah perjalanan yang ditentukan bagi orang yang berjalan (salik) kepada Allah, dengan melalui beberapa batas-batas dan tempat-tempat (maqam)
dan naik beberapa maqam/martabat yang tinggi
yaitu perjalanan rohani dan nafsani.
Adapun Suluk (berkhalwat) memberikan panduan pada kita dalam bentuk bingkisan sempurna dan praktis untuk pengembangan pribadi, suatu ilmu pengetahuan yang nyata
(keseimbangan dan keselarasan jasmani dan rohani), mengekang nafsu-nafsu rendah, pikiran yang kekal dalam bathin, pengendalian pikiran dan gerak-gerik,tata tertib pikiran, perasaan dan raga, perubahan perangai binatang kepada perangai mulia,
pengontrol tuntutan nafsu dan emosi,pikiran seimbang, ketenangan dan kesucian, kesabaran.
Penganut Tharekat melakukan khalwat atau suluk dengan mengasingkan diri kesebuah tempat, dibawah pimpinan seorang mursyid, ada yang 3 hari ada yang 7 hari dan yang paling banyak 40 hari.
Seorang guru (Syekh Mursyid) perlu sekali indispensable untuk memberikan bimbingan dalam perjalanan suluk,tiap murid suluk harus sederhana, hormat sopan santun, rendah hati,ramah toleransi dan banyak kecintaannya terhadap guru (Syekh), apabila murid mempunyai kerinduan akan kegaiban-kegaiban batin, murid itu gagal dalam suluk.
Saat sekarang masih banyak terdapat rumah suluk tersebut, lebih dari seratus rumah suluk, dua pertiga adalah pengaruh Kumpulan, sedangkan selebihnya adalah pengaruh Kumpulan.
Dengan demikian semangat pembangunan yang dibuat di Rokan Hulu memakai julukan NEGERI SERIBU SULUK tersebut, yang dituangkan dalam singkatan bermacam-macam, ini dicetuskan sejak Bupati Rokan Hulu H. Ramlan Zas, SH.
Sekarang ada beberapa tempat suluk yang masih aktif menurut catatan Kordinator Thareqat Naqsabandi Rokan Hulu. Yakni di Tambusai (4 Surau), Rambah (25 Surau), Rambah Samo (20 Surau), Rambah Hilir (24 Surau), Kepenuhan (15 Surau), Bangun Purba (3 Surau), Kuntodarussalam (13 Surau), Rokan IV Koto (5 Surau), Ujung Batu (4 Surau), Tandun (2 Surau), Kabun (4 Suaru).***NWR
Tahu nggak Anda "Negeri Seribu Suluk". Bagi warga Provinsi Riau, mungkin sebagian sudah mengenalnya.
Negeri Seribu Suluk adalah sebuah daerah kabupaten hasil pemekaran kabupaten Kampar. kabupaten Rokan Hulu, itulah Negeri Seribu Suluk yang kita dimaksud.
Konon, julukan ini ditorehkan olah Thareqat Naqsabandi. Dasarnya menjuluki Kabupaten Rokan Hulu dengan sebutan itu karena dahulu di daerah ini sangat banyak surau suluk. SekarangSekarang ada dua hemah atau disebut dengan asal ajaran yang dibawa oleh mursyid dari dua orang Syekh.
Yakni dari Besilam Langkat Syekh Abdul Wahab Rokan. Beliau ini sangat besar pengaruh thareqatnya saat sekarang dan berpusat di Besilam Kabupaten Langkat Sumatera Utara.
Namun demikian Syekh Abdul Wahab Rokan adalah seorang putra Rokan yang lahir di Rantau Binuang Sakti Tahun 1811M dan wafat 1926M, setelah belajar Thareqat di Bukit Abi Qubis Mekah tahun 1286H ia menyebarkan ajaran tersebut di daerah Rokan dan sekitarnya.
Kemudian dari Kumpulan Sumatera Barat, yaitu Maulana Syekh Ibrahim Al Khalidi Kumpulan, lahir 1764 dan wafat 1914M, juga memberikan pengaruh thareqat di Rokan ini.
Ada 5 butir perkataan yang menjadi buah bibir ahli Sufi yaitu : Suluk, Tharekat, Saier, Their dan Rujuk.
Suluk adalah perjalanan yang ditentukan bagi orang yang berjalan (salik) kepada Allah, dengan melalui beberapa batas-batas dan tempat-tempat (maqam)
dan naik beberapa maqam/martabat yang tinggi
yaitu perjalanan rohani dan nafsani.
Adapun Suluk (berkhalwat) memberikan panduan pada kita dalam bentuk bingkisan sempurna dan praktis untuk pengembangan pribadi, suatu ilmu pengetahuan yang nyata
(keseimbangan dan keselarasan jasmani dan rohani), mengekang nafsu-nafsu rendah, pikiran yang kekal dalam bathin, pengendalian pikiran dan gerak-gerik,tata tertib pikiran, perasaan dan raga, perubahan perangai binatang kepada perangai mulia,
pengontrol tuntutan nafsu dan emosi,pikiran seimbang, ketenangan dan kesucian, kesabaran.
Penganut Tharekat melakukan khalwat atau suluk dengan mengasingkan diri kesebuah tempat, dibawah pimpinan seorang mursyid, ada yang 3 hari ada yang 7 hari dan yang paling banyak 40 hari.
Seorang guru (Syekh Mursyid) perlu sekali indispensable untuk memberikan bimbingan dalam perjalanan suluk,tiap murid suluk harus sederhana, hormat sopan santun, rendah hati,ramah toleransi dan banyak kecintaannya terhadap guru (Syekh), apabila murid mempunyai kerinduan akan kegaiban-kegaiban batin, murid itu gagal dalam suluk.
Saat sekarang masih banyak terdapat rumah suluk tersebut, lebih dari seratus rumah suluk, dua pertiga adalah pengaruh Kumpulan, sedangkan selebihnya adalah pengaruh Kumpulan.
Dengan demikian semangat pembangunan yang dibuat di Rokan Hulu memakai julukan NEGERI SERIBU SULUK tersebut, yang dituangkan dalam singkatan bermacam-macam, ini dicetuskan sejak Bupati Rokan Hulu H. Ramlan Zas, SH.
Sekarang ada beberapa tempat suluk yang masih aktif menurut catatan Kordinator Thareqat Naqsabandi Rokan Hulu. Yakni di Tambusai (4 Surau), Rambah (25 Surau), Rambah Samo (20 Surau), Rambah Hilir (24 Surau), Kepenuhan (15 Surau), Bangun Purba (3 Surau), Kuntodarussalam (13 Surau), Rokan IV Koto (5 Surau), Ujung Batu (4 Surau), Tandun (2 Surau), Kabun (4 Suaru).***NWR
Sekilas Tentang Pulau “Penyu” Jemur
Nuansa Wisata Riau ***
Pulau Jemur adalah bagian dari sekian banyak wisata Rokan Hilir (Rohil). Kawasan Pulau Jemur merupakan gugusan pulau-pulau yang terdiri dari beberapa buah pulau, yakni Pulau Tekong Emas, Pulau Tekong Simbang, Pulau Labuhan Bilik serta pulau-pulau kecil lainnya.
Pulau-pulau yang terdapat di Pulau Jemur ini berbentuk lingkaran sehingga bagian tengahnya merupakan laut yang tenang. Pada musim angin barat laut tiba, gelombang di Selat Malaka sangat besar sehingga biasanya nelayan-nelayan yang sedang menangkap ikan disekitar perairan Pulau Jemur ini berlindung di bagian tengah Pulau Jemur yang terdapat air laut yang tenang.
Setelah gelombang laut mengecil atau badai berkurang barulah para nelayan keluar untuk memulai aktivitas menangkap ikan kembali. Pulau Jemur memiliki pemandangan dan panorama alam yang indah, selain itu Pulau Jemur ini amat kaya dengan hasil lautnya, disamping penyu-penyu tersebut naik ke pantai dan bertelur, penyu tersebut menyimpan telurnya di bawah lapisan pasir-pasir pantai, satwa langka ini dapat bertelur 100 sampai 150 butir setiap ekornya.
Untuk meningkatkan jumlah populasi Penyu Hijau, pemerintah Rokan Hilir melakukan kegiatan penagkaran penyu untuk mencegah terjadinya kepunbahan terhadap satwa langka ini.
Kawasan Pulau Jemur terletak lebih kurang 45 mil dari ibukota Kabupaten Rokan Hilir, Bagansiapiapi dan 45mil dari negara jiran yakni Malaysia, sedangkan Propinsi Sumatera Utara merupakan propinsi yang terdekat dari Pulau Jemur.
Selain itu Pulau Jemur juga terdapat beberapa potensi wisata lain diantaranya adalah Goa Jepang, Menara Suar, bekas tapak kaki manusia, perigi tulang, sisa-sisa pertahanan Jepang, batu Panglima Layar, Taman Laut dan pantai berpasir kuning emas.**NWR
Pulau Jemur adalah bagian dari sekian banyak wisata Rokan Hilir (Rohil). Kawasan Pulau Jemur merupakan gugusan pulau-pulau yang terdiri dari beberapa buah pulau, yakni Pulau Tekong Emas, Pulau Tekong Simbang, Pulau Labuhan Bilik serta pulau-pulau kecil lainnya.
Pulau-pulau yang terdapat di Pulau Jemur ini berbentuk lingkaran sehingga bagian tengahnya merupakan laut yang tenang. Pada musim angin barat laut tiba, gelombang di Selat Malaka sangat besar sehingga biasanya nelayan-nelayan yang sedang menangkap ikan disekitar perairan Pulau Jemur ini berlindung di bagian tengah Pulau Jemur yang terdapat air laut yang tenang.
Setelah gelombang laut mengecil atau badai berkurang barulah para nelayan keluar untuk memulai aktivitas menangkap ikan kembali. Pulau Jemur memiliki pemandangan dan panorama alam yang indah, selain itu Pulau Jemur ini amat kaya dengan hasil lautnya, disamping penyu-penyu tersebut naik ke pantai dan bertelur, penyu tersebut menyimpan telurnya di bawah lapisan pasir-pasir pantai, satwa langka ini dapat bertelur 100 sampai 150 butir setiap ekornya.
Untuk meningkatkan jumlah populasi Penyu Hijau, pemerintah Rokan Hilir melakukan kegiatan penagkaran penyu untuk mencegah terjadinya kepunbahan terhadap satwa langka ini.
Kawasan Pulau Jemur terletak lebih kurang 45 mil dari ibukota Kabupaten Rokan Hilir, Bagansiapiapi dan 45mil dari negara jiran yakni Malaysia, sedangkan Propinsi Sumatera Utara merupakan propinsi yang terdekat dari Pulau Jemur.
Selain itu Pulau Jemur juga terdapat beberapa potensi wisata lain diantaranya adalah Goa Jepang, Menara Suar, bekas tapak kaki manusia, perigi tulang, sisa-sisa pertahanan Jepang, batu Panglima Layar, Taman Laut dan pantai berpasir kuning emas.**NWR
Sekilas Info Wisata dari Kota Rengat
Nuansa Wisata Riau ***
Rengat adalah sebuah kota di Provinsi Riau, Indonesia dan ibu kota Kabupaten Indragiri Hulu. Kota ini dilalui Sungai Indragiri. Penduduk asli daerah ini adalah Suku Talang Mamak. beberapa suku lain sebagai suku pendatang di Rengat adalah suku Melayu, Minang, Batak, Tionghuoa, dan Sunda.
Di Rengat juga terdapat sebuah tugu dibangun mengenang kepahlawanan seorang bupati yang bernama Tulus (yang juga ayah kandung seorang sastrawan terkenal Chairil Anwar), pada masa Agresi Militer II Belanda ke Indonesia.
Buah khas Rengat adalah kedondong. Di pusat kota terdapat sebuah tugu jam dan pahatan buah kedondong di atasnya. Dodol buah kedondong adalah produk olahan yang juga disukai.
Salah satu tempat wisata di Rengat, adalah sebuah danau buatan yang dikenal penduduk setempat dengan nama Danau Raja. Konon dahulu kala di tengah danau buatan tersebut terdapat sebuah bangunan kerajaan.
Di era tahun 1980-an, pemerintah daerah Indragiri Hulu bermaksud menjadikan Danau Raja ini sebagai sebuah daerah wisata bagi penduduk sekitar dengan membangun taman bermain untuk anak-anak, dan beberapa fasilitas pendukung lainnya.
Sayang penggalakan pembangunan tersebut tidak berjalan lama, mengingat jumlah pengunjungnya tidak sesuai target yang diharapkan. Hal ini menyebabkan para pedagang setempat tidak bertahan lama.
Salah satu kendaraan khas Rengat yang masih beroperasi sampai sekarang adalah becak. Yang membuat Becak di Rengat berbeda dengan becak yang terdapat di beberapa daerah lain yaitu pada posisi pengayun becak berada di samping penumpang bukan di belakang.
Di Rengat juga terdapat dua buah jembatan melintasi Sungai Indragiri yang digunakan untuk penyeberangan ke daerah seberang sungai. Banyak penduduk yang memanfaatkan fasilitas ini untuk berolah raga seperti jogging ke daerah seberang yang dikenal bebas polusi.
Karena di daerah ini masih terdapat banyak pohon dan kebanyakan penduduknya bermata pencaharian berkebun. Sehingga jika pada musimnya, banyak buah-buahan membanjiri pasar seperti manggis, rambutan, durian, duku, dan lengkeng. **NWR
Rengat adalah sebuah kota di Provinsi Riau, Indonesia dan ibu kota Kabupaten Indragiri Hulu. Kota ini dilalui Sungai Indragiri. Penduduk asli daerah ini adalah Suku Talang Mamak. beberapa suku lain sebagai suku pendatang di Rengat adalah suku Melayu, Minang, Batak, Tionghuoa, dan Sunda.
Di Rengat juga terdapat sebuah tugu dibangun mengenang kepahlawanan seorang bupati yang bernama Tulus (yang juga ayah kandung seorang sastrawan terkenal Chairil Anwar), pada masa Agresi Militer II Belanda ke Indonesia.
Buah khas Rengat adalah kedondong. Di pusat kota terdapat sebuah tugu jam dan pahatan buah kedondong di atasnya. Dodol buah kedondong adalah produk olahan yang juga disukai.
Salah satu tempat wisata di Rengat, adalah sebuah danau buatan yang dikenal penduduk setempat dengan nama Danau Raja. Konon dahulu kala di tengah danau buatan tersebut terdapat sebuah bangunan kerajaan.
Di era tahun 1980-an, pemerintah daerah Indragiri Hulu bermaksud menjadikan Danau Raja ini sebagai sebuah daerah wisata bagi penduduk sekitar dengan membangun taman bermain untuk anak-anak, dan beberapa fasilitas pendukung lainnya.
Sayang penggalakan pembangunan tersebut tidak berjalan lama, mengingat jumlah pengunjungnya tidak sesuai target yang diharapkan. Hal ini menyebabkan para pedagang setempat tidak bertahan lama.
Salah satu kendaraan khas Rengat yang masih beroperasi sampai sekarang adalah becak. Yang membuat Becak di Rengat berbeda dengan becak yang terdapat di beberapa daerah lain yaitu pada posisi pengayun becak berada di samping penumpang bukan di belakang.
Di Rengat juga terdapat dua buah jembatan melintasi Sungai Indragiri yang digunakan untuk penyeberangan ke daerah seberang sungai. Banyak penduduk yang memanfaatkan fasilitas ini untuk berolah raga seperti jogging ke daerah seberang yang dikenal bebas polusi.
Karena di daerah ini masih terdapat banyak pohon dan kebanyakan penduduknya bermata pencaharian berkebun. Sehingga jika pada musimnya, banyak buah-buahan membanjiri pasar seperti manggis, rambutan, durian, duku, dan lengkeng. **NWR
Langganan:
Postingan (Atom)